Wall Street Beragam Saat Investor Pantau Harga Minyak dan Inflasi

persen

Wall Street Beragam Saat Investor Pantau Harga Minyak dan Inflasi

Jakarta – Bursa saham Amerika Serikat menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada pembukaan perdagangan Rabu, 9 September 2026, di tengah meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap ancaman inflasi global.

Sentimen negatif dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang secara signifikan mendorong harga minyak mentah ke posisi tertinggi dalam enam pekan terakhir.

Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat mengalami penurunan sebesar 303,8 poin atau 0,57% ke level 53.110,45.

Indeks S&P 500 juga menunjukkan pelemahan tipis sebesar 0,8 poin atau 0,01% ke posisi 7.717,81.

Berbeda dengan dua indeks utama lainnya, Nasdaq Composite justru mampu mencatatkan penguatan sebesar 21,6 poin atau 0,08% ke level 26.528,57.

Kondisi pasar yang tidak menentu ini terjadi setelah volatilitas investor melonjak dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor utama yang membebani psikologi pasar.

Investor saat ini tengah membedah kembali data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan performa lebih tangguh dari proyeksi sebelumnya.

Pernyataan dari Gubernur The Fed Christopher Waller turut menambah spekulasi mengenai langkah bank sentral selanjutnya.

Fokus pelaku pasar kini tertuju pada rilis data producer price index (PPI) pada Kamis dan consumer price index (CPI) pada Jumat mendatang.

Data inflasi tersebut diprediksi akan menjadi penentu krusial bagi kebijakan moneter The Fed ke depan.

Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya telah menekankan urgensi pengendalian laju inflasi sebagai prioritas utama.

“Ini masih menjadi sesuatu yang sulit diprediksi. Warsh tidak semudah itu dibaca dibandingkan pendahulunya, Jerome Powell,” ujar head trader U.S. Global Investors, Michael Matousek, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Matousek menambahkan bahwa potensi kenaikan harga minyak yang berkelanjutan akan terus memicu volatilitas di pasar saham.

Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September ini telah menyentuh angka 60,6%.

Di sisi lain, sektor energi mencatatkan penguatan seiring melonjaknya harga minyak mentah Brent sebesar 1,64% menjadi US$98,59 per barel.

Kenaikan harga ini dipicu oleh serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan ketegangan di Selat Hormuz.

“Reli harga minyak membuat gambaran inflasi menjadi semakin keruh,” ungkap senior financial market analyst Capital.com, Kyle Rodda, dikutip dari Reuters.

Menurut Rodda, aktivitas militer di Timur Tengah telah menciptakan premi risiko yang signifikan bagi pasokan energi global.

Dampaknya, saham sektor energi seperti Marathon Petroleum naik 1,78% dan Occidental Petroleum menguat 2,02%.

Sementara itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 0,42 basis poin menjadi 4,7882% membuat aset saham kurang kompetitif.

Saham berbasis kripto terpantau mengalami koreksi setelah harga Bitcoin turun dari level US$80.000, dengan Coinbase melemah 1,57% dan Strategy turun 2,92%.

Sebaliknya, sektor semikonduktor tetap resilien dengan Intel melonjak 4,54% dan Nvidia naik 0,51% didorong optimisme pada sektor kecerdasan buatan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar