Wall Street Tertekan, Harga Minyak dan Yield Treasury Jadi Beban

Rayhan Akhari

Wall Street Tertekan, Harga Minyak dan Yield Treasury Jadi Beban

New York – Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, mengawali perdagangan Selasa (15/9/2026) dengan pergerakan melemah di tengah akumulasi sentimen negatif dari sektor energi dan pasar obligasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan penurunan sebesar 118 poin atau 0,23 persen ke level 52.303,24 pada pembukaan perdagangan hari ini.

Kondisi serupa dialami oleh indeks S&P 500 yang terkoreksi 7,7 poin atau 0,10 persen ke posisi 7.612,3.

Indeks Nasdaq Composite pun tak luput dari tekanan dengan pelemahan 46,2 poin atau 0,18 persen menjadi 26.140,227.

Sentimen pasar terbebani oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.

Harga minyak Brent terpantau naik 0,6 persen ke level US$106,31 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,2 persen menjadi US$102,59 per barel.

Gangguan pasokan energi yang berkelanjutan memicu kekhawatiran baru akan lonjakan inflasi global.

Chief Market Strategist Ameriprise Financial, Anthony Saglimbene, menyatakan bahwa energi saat ini merupakan faktor utama yang memberikan tekanan signifikan terhadap inflasi.

Selain sektor energi, pasar obligasi memberikan beban tambahan melalui kenaikan imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun.

Yield tersebut sempat menyentuh level tertinggi sejak tahun 2007 sebelum akhirnya berada di posisi 5,0122 persen, naik 5,3 basis poin.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah ini secara langsung menurunkan daya tarik aset saham di mata investor.

Sektor teknologi menghadapi tantangan ganda dari sisi fundamental dan isu regulasi.

Saham raksasa teknologi seperti Alphabet dan Microsoft tercatat turun sekitar 1 persen pada awal perdagangan.

Kekhawatiran mengenai prospek permintaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus membayangi investor.

Sentimen negatif muncul seiring adanya seruan dari sejumlah pelaku industri untuk memperlambat pengembangan teknologi AI demi pertimbangan keselamatan.

Co-Founder sekaligus Co-Head of Equity Trading Themis Trading, Joe Saluzzi, menyebutkan bahwa pasar saat ini belum sepenuhnya yakin akan adanya perlambatan nyata dalam pengembangan AI.

Dia menambahkan bahwa persaingan industri tetap ketat dan perusahaan tetap membutuhkan pertumbuhan laba yang konsisten.

Di tengah tekanan sektor teknologi, saham Nvidia justru menunjukkan performa berbeda dengan kenaikan sekitar 0,7 persen.

Pelaku pasar kini mengalihkan fokus pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang akan diumumkan pada Rabu mendatang.

Pasar memprediksi peluang kenaikan suku bunga mencapai 92,5 persen.

Ekspektasi ini menguat setelah data inflasi Agustus menunjukkan kenaikan tekanan harga.

Data ketenagakerjaan yang solid memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Saglimbene menegaskan bahwa kombinasi dinamika inflasi, kondisi tenaga kerja, serta upaya membangun kredibilitas ketua The Fed baru, menjadikan peluang kenaikan suku bunga besok sebagai yang tertinggi sepanjang tahun ini.

Di sektor ritel, saham Dave & Buster’s anjlok lebih dari 13 persen akibat pendapatan kuartal kedua yang mengecewakan.

Sebaliknya, saham Waystar melonjak 12 persen pasca adanya laporan mengenai penjajakan opsi strategis, termasuk potensi penjualan perusahaan perangkat lunak kesehatan tersebut.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar