Jakarta – Harga emas dunia mengalami tekanan jual pada perdagangan Selasa (15/9/2026), namun prospek pasar emas domestik tetap menunjukkan optimisme hingga penutupan tahun.
Data dari Trading Economics mencatat harga emas spot berada di level US$ 4.263 per ons troi pada pukul 16.20 WIB.
Angka tersebut merepresentasikan pelemahan harian sebesar 0,84%.
Secara akumulatif, harga emas spot telah terkoreksi 1,49% dalam sepekan terakhir dan turun 2,83% dalam kurun waktu satu bulan.
Di pasar domestik, harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terpantau stabil di angka Rp 2.592.000 per gram pada hari yang sama.
Jika memperhitungkan pajak penghasilan (PPh) sebesar 0,25%, maka harga per gram emas Antam mencapai Rp 2.598.480.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai fluktuasi harga emas global saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar energi.
Kenaikan harga minyak mentah global memicu kekhawatiran baru terkait lonjakan inflasi.
“Kenaikan harga minyak cukup berpengaruh terhadap emas, terutama melalui ekspektasi inflasi,” kata Lukman, Selasa (15/9/2026).
Dia menjelaskan bahwa gangguan pada pasokan minyak dapat menekan inflasi ke tingkat yang lebih tinggi.
Situasi tersebut memicu spekulasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Kebijakan suku bunga yang ketat cenderung mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan memperkuat posisi dolar AS.
Kondisi ini secara langsung mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil tetap.
Meskipun demikian, peran emas sebagai aset safe haven tetap terjaga akibat ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia.
Lukman menambahkan bahwa pergerakan harga emas Antam tidak selalu mencerminkan fluktuasi harga emas dunia secara linear.
“Harga emas Antam mengikuti harga emas dunia, meskipun pergerakannya juga sangat dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah dan kondisi premi domestik,” ujar Lukman.
Faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memiliki peranan krusial dalam menentukan harga jual emas di pasar lokal.
Menatap akhir tahun 2026, Lukman tetap mempertahankan pandangan positif terhadap kinerja emas meskipun volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi.
Beberapa variabel utama yang akan menentukan arah harga emas mencakup kebijakan The Fed, laju inflasi AS, pergerakan Treasury yield, serta aktivitas pembelian emas oleh bank sentral global.
Selain itu, arus dana pada Exchange Traded Fund (ETF) emas dan eskalasi risiko geopolitik akan menjadi katalis utama bagi harga logam mulia tersebut.
Proyeksi harga emas spot pada akhir 2026 diperkirakan berada di kisaran US$ 4.700 hingga US$ 4.900 per ons troi.
Dengan asumsi nilai tukar rupiah saat ini, harga emas Antam berpotensi menembus level Rp 2,8 juta hingga Rp 3 juta per gram.
Namun, investor diingatkan bahwa kenaikan harga tersebut tidak akan terjadi secara konstan.
Risiko koreksi tetap terbuka lebar seiring dengan dinamika pasar yang masih sangat fluktuatif sepanjang sisa tahun 2026.


















