New York – Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Selasa (15/9/2026).
Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat merosot 313,32 poin atau 0,60% ke level 52.107,88.
Indeks S&P 500 juga terkoreksi 10,36 poin atau 0,14% ke posisi 7.609,62.
Nasdaq Composite turut melemah sebesar 31,97 poin atau 0,11% ke angka 26.156,71.
Kenaikan harga minyak mentah menjadi katalis utama yang membebani sentimen pelaku pasar global.
Harga minyak Brent melonjak 1,9% hingga mencapai US$107,73 per barel.
Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan mencatatkan kenaikan lebih tinggi sebesar 2,2% ke level US$103,64 per barel.
Lonjakan harga energi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai potensi gangguan pasokan energi global di masa depan.
“Energi saat ini menjadi faktor yang paling banyak memberikan tekanan terhadap inflasi,” ujar Chief Market Strategist Ameriprise Financial, Anthony Saglimbene.
Selain harga minyak, pasar obligasi memberikan beban tambahan bagi bursa saham.
Imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun kembali menembus level psikologis 5%.
Angka tersebut merupakan level tertinggi yang pernah dicatatkan sejak tahun 2007.
Kenaikan yield ini mencerminkan antisipasi investor terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve yang diprediksi tetap ketat.
Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga lanjutan mencapai 93% menyusul data inflasi Agustus yang kembali meningkat.
Di sisi lain, sektor teknologi masih menghadapi ketidakpastian terkait prospek kecerdasan buatan (AI).
Meskipun saham Nvidia sempat menguat lebih dari 1%, saham raksasa teknologi lain seperti Alphabet, Microsoft, dan Apple justru melemah.
Sentimen negatif muncul setelah adanya seruan dari beberapa perusahaan AI terkemuka untuk memperlambat pengembangan teknologi tersebut demi alasan keselamatan.
“Penundaan tidak baik bagi Wall Street. Perlambatan dalam bentuk apa pun akan menjadi masalah. Namun, saya pikir saat ini pasar belum percaya bahwa akan ada perlambatan,” kata Co-Founder sekaligus Co-Head of Equity Trading Themis Trading, Joe Saluzzi, dikutip dari Reuters.
Menurut Saluzzi, persaingan industri AI yang sangat ketat menuntut perusahaan untuk terus mengejar target pendapatan dan laba demi rencana penawaran saham perdana.
Sektor energi dan teknologi masih menjadi penopang tipis di tengah pelemahan pasar secara keseluruhan.
Sebaliknya, sektor consumer staples memimpin koreksi dengan penurunan 0,7%.
Sektor properti yang sangat sensitif terhadap suku bunga pun tertekan sebesar 0,8%.
Selain faktor makro, kinerja emiten individual turut mewarnai pergerakan pasar hari ini.
Saham perusahaan Dave & Buster’s anjlok lebih dari 12% akibat pendapatan kuartal kedua yang meleset dari ekspektasi.
Di sisi lain, saham Waystar melonjak 8,8% di tengah rumor perusahaan yang tengah menjajaki opsi strategis termasuk potensi penjualan.


















