Wall Street Menguat Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed Rabu Ini

Rayhan Akhari

Wall Street Menguat Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed Rabu Ini

New York – Pasar saham Amerika Serikat menunjukkan dinamika yang beragam pada perdagangan Rabu (16/9/2026).

Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatatkan penguatan di tengah upaya pemulihan setelah mengalami tekanan jual selama dua sesi berturut-turut.

Data pasar menunjukkan S&P 500 naik 13,50 poin atau 0,19% ke level 7.599,84.

Nasdaq Composite turut menguat sebesar 111,71 poin atau 0,43% menuju posisi 26.093,28.

Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru mengalami pelemahan sebesar 99,26 poin atau 0,19% menjadi 51.993,85.

Sentimen utama yang membayangi pergerakan bursa adalah penantian pelaku pasar terhadap pengumuman suku bunga oleh Federal Reserve.

Keputusan kebijakan moneter tersebut dijadwalkan akan dirilis pada pukul 14.00 waktu setempat.

Selain keputusan suku bunga, investor juga menunggu pernyataan dari Ketua The Fed, Kevin Warsh.

Pasar berharap mendapatkan kejelasan mengenai proyeksi inflasi dan arah kebijakan moneter ke depan.

Data dari CME FedWatch mengindikasikan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga saat ini menyentuh angka 93%.

Namun, sejumlah analis mempertanyakan validitas ekspektasi tersebut.

“Kami menilai pricing pasar untuk kenaikan suku bunga mungkin terlalu percaya diri,” ujar Yung-Shin Kung, Head dan Chief Investment Officer Mast Investments.

Menurut Kung, kenaikan suku bunga belum tentu menjadi instrumen yang efektif dalam meredam tekanan inflasi saat ini.

Ia menyoroti faktor tarif perdagangan dan lonjakan investasi di sektor kecerdasan artifisial sebagai pemicu inflasi yang lebih kompleks.

Sementara itu, penurunan harga minyak mentah memberikan katalis positif bagi pasar saham secara umum.

Harga minyak mentah Brent terpantau melemah 1,1% menjadi US$107,55 per barel.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga terkoreksi 1,9% ke level US$103,82 per barel.

Pelemahan harga komoditas energi ini dipicu oleh laporan tambahan pasokan minyak dari Arab Saudi melalui Oman.

Kondisi tersebut berhasil meredakan kekhawatiran investor mengenai gangguan rantai pasok global akibat ketegangan di Timur Tengah.

Dampak penurunan harga minyak terasa langsung pada kinerja saham sektor energi.

Indeks energi S&P 500 menjadi sektor dengan performa terburuk setelah anjlok 2,1%.

Emiten seperti Devon Energy dan ConocoPhillips masing-masing mencatat koreksi harga lebih dari 3%.

Di sisi berlawanan, sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti utilitas dan real estat justru memimpin penguatan.

Indeks utilitas naik 0,6%, sementara indeks real estat menguat 0,4%.

Adapun sektor teknologi menunjukkan pergerakan yang bervariasi.

Meta Platforms menguat 1,1%, sementara Microsoft mengalami tekanan jual tipis.

Saham Intel melonjak 5,6% pasca beredar kabar mengenai rencana kolaborasi produksi chip memori dengan SK Hynix.

Secara keseluruhan, pelaku pasar tetap menunjukkan antusiasme terhadap aset berisiko meskipun dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik dan imbal hasil obligasi yang tinggi.

“Pasar ini sangat tangguh. Ada banyak alasan bagi pasar untuk terkoreksi secara signifikan, tetapi hal itu belum terjadi,” ungkap Adam Sarhan, Director MarketTerminal.com.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar