Wall Street Terkoreksi Akibat Lonjakan Harga Minyak dan Yield Treasury

Ikhwan Setiawan

Wall Street Terkoreksi Akibat Lonjakan Harga Minyak dan Yield Treasury

New York – Bursa saham Amerika Serikat menutup sesi perdagangan hari Selasa (15/9/2026) dengan pelemahan signifikan di seluruh indeks utama.

Sentimen negatif menyelimuti pasar akibat kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, kekhawatiran terhadap beban utang korporasi, serta lonjakan harga minyak global.

Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan penurunan sebesar 328,09 poin atau 0,63% ke level 52.093,11.

Indeks S&P 500 juga tertekan dengan pelemahan 34,25 poin atau 0,45% hingga ditutup pada posisi 7.585,73.

Sementara itu, Nasdaq Composite yang sarat dengan saham teknologi merosot 204,84 poin atau 0,78% ke level 25.981,57.

Aktivitas perdagangan di bursa AS tercatat cukup tinggi dengan volume mencapai 15,85 miliar saham, melampaui rata-rata 20 hari terakhir sebesar 15,14 miliar saham.

Sektor barang konsumsi non-pokok menjadi kontributor penurunan terdalam di antara 11 sektor utama S&P 500.

Di sisi lain, sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang mampu menguat sebesar 2,3% akibat lonjakan harga minyak mentah dunia.

Kenaikan harga energi ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk serangan terhadap infrastruktur vital di Arab Saudi.

Harga minyak West Texas Intermediate dan Brent tercatat naik masing-masing 4,4% dan 2,9%, sementara harga kontrak berjangka solar menyentuh rekor tertinggi baru.

Presiden Chase Investment Counsel, Peter Tuz, menyatakan bahwa investor saat ini cenderung bersikap defensif di tengah ketidakpastian ekonomi.

“Mengingat kenaikan harga bahan bakar, terutama solar, prospek yang hampir pasti mengenai kenaikan suku bunga mulai besok, serta kekhawatiran akan potensi perlambatan dalam ekosistem AI, mengapa harus masuk ke pasar secara agresif sebelum situasi ini menjadi lebih jelas?” ujar Peter Tuz dikutip dari Reuters.

Pelaku pasar saat ini tengah menanti hasil pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve yang akan berakhir pada Rabu (16/9/2026).

Data perangkat FedWatch milik CME menunjukkan probabilitas sebesar 94,5% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

Angka ini melonjak tajam dibandingkan probabilitas 33,1% yang tercatat pada bulan sebelumnya.

Penasihat kekayaan senior di Murphy & Sylvest, Paul Nolte, menyebut bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan akan dilakukan secara berkelanjutan.

“Ini kemungkinan bukan sekadar satu kali kenaikan lalu selesai, melainkan serangkaian kenaikan suku bunga,” kata Paul Nolte sebagaimana dilansir Reuters.

Ia menambahkan bahwa kebijakan moneter ke depan akan sangat bergantung pada fluktuasi harga minyak yang mulai memicu inflasi sistemik ke berbagai sektor.

Tekanan pasar semakin diperberat dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang menembus angka 5%, level tertinggi yang pernah dicapai sejak tahun 2007.

Kondisi ekonomi ini menciptakan beban tambahan bagi perusahaan yang memiliki tingkat utang tinggi, terutama bagi mereka yang sedang melakukan ekspansi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI).

Rekomendasi

Tinggalkan komentar