Jakarta – Dua direktur PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) mencatatkan keuntungan signifikan secara instan setelah melakukan pembelian saham perusahaan dengan harga jauh di bawah nilai pasar.
Transaksi tersebut melibatkan pembelian saham dari pemegang saham pengendali, yakni PT Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara.
Direktur KETR, Dani Samsul Ependi, dilaporkan menambah kepemilikan sahamnya dengan menyerap 48,3 juta lembar saham pada 17 September 2026.
Berdasarkan laporan transaksi, Dani membeli sebanyak 48.301.257 saham KETR dengan harga Rp200 per lembar.
Nilai total transaksi yang dilakukan oleh Dani tersebut mencapai sekitar Rp9,66 miliar.
Sebelum aksi korporasi ini dilakukan, Dani tercatat belum memiliki saham di perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur jaringan serat optik tersebut.
Dengan pembelian tersebut, kepemilikan saham Dani kini mencapai 48.301.257 lembar atau setara dengan 1,70 persen hak suara perusahaan.
Langkah serupa juga dilakukan oleh direktur lainnya, Vidcy Octory, beberapa hari sebelumnya.
Vidcy tercatat melakukan pembelian saham dari pemegang saham pengendali yang sama pada 14 September 2026.
Volume saham dan harga pembelian yang dilakukan oleh Vidcy identik dengan transaksi milik Dani, yakni 48.301.257 lembar saham dengan harga Rp200 per saham.
Aksi borong saham oleh jajaran direksi ini secara langsung berdampak pada berkurangnya porsi kepemilikan PT Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara.
Sebelum transaksi berlangsung, Fajar Sejahtera menguasai 1.557.864.674 lembar saham atau setara 54,83 persen hak suara.
Setelah melepas sebagian sahamnya kepada dua direktur tersebut, kepemilikan Fajar Sejahtera menyusut menjadi 1.509.563.417 lembar saham.
Persentase hak suara pemegang saham pengendali tersebut kini tercatat turun menjadi 53,13 persen.
Komposisi pemegang saham KETR lainnya terdiri dari PT Gema Lintas Benua sebesar 9,64 persen dan PT Ascendia Capital Indonesia sebesar 5,09 persen.
Sisa porsi kepemilikan saham KETR dipegang oleh publik, termasuk dua direksi yang baru saja melakukan transaksi tersebut.
Sorotan utama dari aksi korporasi ini terletak pada harga pembelian yang dipatok di level Rp200 per saham.
Harga tersebut terpaut sangat jauh jika dibandingkan dengan harga perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada penutupan perdagangan Senin, 21 September 2026, saham KETR berada di level Rp975 per lembar.
Terdapat selisih sebesar Rp775 per saham atau diskon sekitar 79,5 persen dari harga pasar yang berlaku di bursa.
Kondisi ini membuat investasi yang dilakukan oleh para direktur tersebut langsung mencatatkan keuntungan capital gain yang belum terealisasi sebesar 367,5 persen dalam hitungan hari.
Meskipun secara akumulatif harga saham KETR telah terkoreksi 14,22 persen sejak awal tahun 2026, harga transaksi direksi tetap jauh lebih rendah dari harga pasar saat ini.
Transaksi internal antara pemegang saham pengendali dan manajemen ini mengubah peta kepemilikan saham dalam struktur perusahaan.


















