Jakarta – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tengah menghadapi tantangan operasional menyusul tren kenaikan harga komoditas minyak mentah dunia dan naphtha yang terus berlanjut hingga Selasa (22/9/2026).
Lonjakan harga bahan baku ini berisiko menekan margin keuntungan perusahaan jika tidak dibarengi dengan penyesuaian harga jual produk petrokimia di pasar.
Data pasar mencatat harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak November 2026 naik 0,22% ke posisi US$ 100,57 per barel pada pukul 07.30 WIB.
Pada saat yang sama, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Oktober 2026 juga mengalami kenaikan tipis sebesar 0,02% menjadi US$ 95,8 per barel.
Tren serupa terjadi pada komoditas naphtha yang menguat 0,18% ke level US$ 839,26 per ton berdasarkan catatan perdagangan Senin (21/9/2026).
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, menyatakan bahwa kenaikan biaya input produksi menjadi faktor krusial yang harus diwaspadai oleh manajemen TPIA.
“Yang perlu dilihat bukan hanya harga minyak, tetapi juga apakah spread produk petrokimia masih cukup sehat,” ungkap Kevin sebagaimana dikutip dari laporan analisis pasar tertanggal 21 September 2026.
Menurutnya, tekanan terhadap margin akan semakin intensif apabila harga produk petrokimia di pasar tidak mampu bergerak secepat kenaikan biaya bahan baku.
Risiko rantai pasok juga menjadi perhatian, terutama jika kenaikan harga minyak dipicu oleh konflik geopolitik yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan internasional.
Kondisi tersebut tidak hanya berisiko memperketat pasokan, tetapi juga dapat meningkatkan beban logistik perusahaan secara signifikan.
Mengenai strategi mitigasi, Kevin menilai bahwa TPIA memiliki keunggulan operasional berkat integrasi aset refinery dan storage yang dimiliki saat ini.
“TPIA memang punya beberapa alternatif feedstock, tapi itu lebih membantu mengurangi risiko, bukan menghilangkannya sepenuhnya,” jelasnya dalam keterangan resmi.
Langkah diversifikasi bisnis yang dilakukan perusahaan, termasuk melalui Aster dan bisnis fuel retail di Singapura, dinilai mampu memberikan bantalan kinerja di tengah volatilitas sektor petrokimia.
Bisnis energi dan kilang diharapkan dapat menopang arus kas ketika margin petrokimia sedang mengalami tekanan pasar yang kuat.
Selain itu, keberadaan proyek CA-EDC diproyeksikan menjadi pendorong pertumbuhan baru bagi perseroan dalam jangka panjang.
Meskipun terdapat tantangan eksternal, Kiwoom Sekuritas Indonesia memberikan pandangan positif terhadap pergerakan saham TPIA dengan merekomendasikan trading buy.
Peluang tersebut didukung oleh sinyal teknikal Stochastic RSI yang saat ini telah menunjukkan indikasi bullish cross.
Investor disarankan untuk mencermati target harga jangka pendek di kisaran Rp 2.000 hingga Rp 2.080 per saham.
Keberhasilan TPIA ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam menjaga keseimbangan antara utilisasi pabrik dan efisiensi biaya produksi di tengah kondisi pasar yang dinamis.


















