Jakarta – Pasar obligasi Indonesia dinilai tetap memiliki ketahanan yang kuat di tengah gejolak eksternal, meski imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury tenor 10 tahun telah menyentuh level psikologis 5%.
Ketangguhan pasar surat utang domestik ini didorong oleh fundamental ekonomi yang terjaga serta pengelolaan fiskal yang prudent atau hati-hati.
Head of Fixed Income Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia, Fitri Lindawati, menyatakan bahwa pihaknya memprediksi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia akan berjalan secara moderat ke angka 7,18%.
Proyeksi tersebut muncul pasca keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada September 2026 yang menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75% hingga 4,00%, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis AllianzGI, Kamis (24/9/2026).
Stabilitas pasar obligasi nasional ditopang oleh posisi cadangan devisa yang solid.
Data menunjukkan cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 146,5 miliar pada Agustus 2026, yang merefleksikan pertumbuhan sebesar 1,03% dibandingkan bulan sebelumnya.
Sentimen positif juga datang dari nilai tukar rupiah yang menunjukkan pergerakan lebih stabil di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 yang dirancang secara konservatif turut memberikan kepercayaan bagi pelaku pasar.
Pemerintah berkomitmen menjaga defisit fiskal pada level 2,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang berhasil meredam kekhawatiran investor terkait keberlanjutan fiskal jangka panjang.
Meskipun fundamental domestik cukup kuat, Fitri mengingatkan bahwa investor harus tetap waspada terhadap risiko yang masih mengintai.
“Kami memperkirakan The Fed masih akan melakukan satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026,” ujar Fitri dalam pernyataan resminya.
Ia juga menyoroti kebijakan The Fed yang cenderung hawkish serta lonjakan harga minyak mentah dunia yang konsisten berada di atas US$ 100 per barel.
Dua faktor tersebut dinilai berpotensi memicu volatilitas nilai tukar rupiah dan memberikan tekanan tambahan pada defisit fiskal Indonesia.
Tantangan skenario “higher for longer” atau suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama masih membayangi pasar obligasi tanah air.
Namun, obligasi pemerintah Indonesia tetap menawarkan imbal hasil riil yang menarik dibandingkan negara-negara berkembang lainnya dengan peringkat layak investasi (investment grade).
Saat ini, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun bergerak di kisaran 7,0% hingga 7,2%.
Dengan tingkat inflasi di angka 3%, investor dapat menikmati imbal hasil riil sekitar 4%.
Strategi investasi yang disarankan bagi pelaku pasar adalah lebih selektif dengan mengandalkan pendapatan kupon (carry).
Investor disarankan untuk mempertimbangkan durasi pendek hingga menengah hingga terdapat bukti konkret bahwa imbal hasil obligasi global telah mencapai puncak.
Di sisi lain, Tim CIO AllianzGI melalui laporan Fixed Income Forward: September 2026 menegaskan bahwa kenaikan imbal hasil tidak selalu bermakna negatif.
Aset pendapatan tetap justru menjadi pilihan menarik sebagai diversifikasi portofolio di tengah fluktuasi pasar saham.
Selain itu, instrumen Floating Rate Notes menjadi instrumen yang patut dilirik saat suku bunga tinggi karena kupon yang dibayarkan akan mengikuti kenaikan suku bunga.
Investor juga diimbau memperhatikan dinamika global lain, seperti pergerakan mata uang yen Jepang dan gelombang penawaran umum perdana (IPO) perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi mengubah peta alokasi modal global.
















