New York – Pasar saham Amerika Serikat mengawali sesi perdagangan hari Jumat, 26 September 2026, dengan pergerakan yang cenderung stabil di tengah dominasi optimisme sektor teknologi.
Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan tipis sebesar 9,7 poin atau 0,02% ke level 51.359,7.
S&P 500 turut menguat 5,7 poin atau 0,07% ke posisi 7.709,86, sementara Nasdaq Composite tumbuh 31,6 poin atau 0,12% menjadi 26.970,952.
Kinerja positif bursa saham kali ini didorong kuat oleh antusiasme investor terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Sektor semikonduktor menjadi motor penggerak utama, di mana saham Advanced Micro Devices, Marvell, dan Cerebras masing-masing mencatatkan kenaikan di atas 1%.
Sentimen pasar juga terangkat oleh lonjakan saham Akamai Technologies sebesar 12% setelah perusahaan menjalin kesepakatan layanan cloud senilai US$11,6 miliar dengan Anthropic.
Perusahaan teknologi raksasa seperti Tesla, Nvidia, dan SpaceX turut memberikan kontribusi positif melalui penguatan harga saham mereka.
Meta menjadi salah satu sorotan utama karena berada dalam jalur kenaikan mingguan selama lima periode berturut-turut.
Kapitalisasi pasar Meta saat ini berada di ambang angka US$2 triliun, dengan selisih kurang dari 1% untuk mencapai level tersebut.
Optimisme ini didukung oleh tingginya minat pengguna terhadap aplikasi Muse dan perangkat terintegrasi Charm milik perusahaan.
“Jumlah uang yang disalurkan ke perekonomian melalui investasi AI sangat besar, dan kita bahkan belum melihat dampaknya terhadap produktivitas,” ujar Managing Partner Harris Financial Group, Jamie Harris, dikutip dari Reuters.
Menurutnya, ekspektasi terhadap dampak investasi AI pada produktivitas menjadi faktor krusial yang menahan pasar dari aksi jual besar-besaran.
Meski demikian, laju penguatan bursa tetap dibayangi oleh berbagai risiko makroekonomi yang menekan sentimen investor.
Harga minyak mentah Brent yang masih bertahan di atas US$100 per barel tetap menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Selain itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang berada di level 5,1% memberikan tekanan tersendiri bagi pasar ekuitas.
Ketahanan ekonomi Amerika Serikat yang tercermin dari data pesanan barang tahan lama bulan Agustus juga memicu spekulasi kebijakan moneter.
Pesanan barang tahan lama yang tercatat stagnan melampaui ekspektasi ekonom yang sebelumnya memprediksi penurunan sebesar 0,4%.
Kondisi tersebut memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Data CME Group FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober kini mencapai 69%.
Investor kini menantikan pernyataan dari sejumlah pejabat The Fed, termasuk John Williams, Jeffrey Schmid, dan Beth Hammack, terkait arah kebijakan masa depan.
Di sisi lain, negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dan China belum menunjukkan terobosan signifikan setelah kedua negara hanya memperpanjang gencatan perdagangan hingga 10 Januari mendatang.
Ketegangan geopolitik di Iran dan Ukraina, serta kekhawatiran inflasi akibat utang global, terus menjadi faktor yang diperhitungkan oleh pelaku pasar dalam menentukan posisi portofolio mereka.


















