BI Pastikan Uang Bertanda Tangan Purbaya-Perry Tetap Berlaku Normal

persen

BI Pastikan Uang Bertanda Tangan Purbaya-Perry Tetap Berlaku Normal

Jakarta – Bank Indonesia (BI) secara resmi mengonfirmasi penerbitan uang rupiah kertas baru yang memuat tanda tangan mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan mantan Gubernur BI Perry Warjiyo.

Penerbitan ini merupakan bagian dari siklus pengadaan uang kartal rutin yang dilakukan oleh bank sentral.

Gubernur BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa uang rupiah kertas dengan tanda tangan pejabat terdahulu tersebut telah beredar di masyarakat.

“Hari ini, kalau enggak salah, hari ini terbit yang seri baru, tanda tangan dari Pak Menteri Keuangan yang lama dan Bapak Gubernur juga yang sebelumnya. Jadi hari ini keluar, hari ini atau beberapa hari yang lalu, tapi itu sudah ada. Ada yang minta kolektor,” ujar Destry saat memberikan keterangan pers di Gedung BI, Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Fenomena kemunculan uang dengan tanda tangan pejabat yang sudah tidak menjabat ini memicu ketertarikan di kalangan kolektor uang numismatik.

Destry menegaskan bahwa pencetakan uang kartal adalah aktivitas operasional yang bersifat normal dan dilakukan secara berkala setiap tahun.

Bank sentral tidak melakukan pencetakan secara sekaligus dalam satu waktu tertentu.

“Cetak uang itu kan hal yang normal. Setiap tahun kita cetak uang,” tegasnya.

Proses produksi uang dilakukan secara bertahap guna memastikan ketersediaan likuiditas uang tunai yang memadai di seluruh pelosok negeri.

Langkah ini diambil mengingat kebutuhan masyarakat akan uang kartal tetap tinggi, terutama di wilayah-wilayah yang belum terjangkau akses digital secara optimal.

“Harus selalu yang tiap tahun itu ada masanya. Jadi mencetak itu enggak langsung jebret di awal tahun atau di akhir tahun, tapi ada tahapan-tahapannya. Karena biar gimana kan kebutuhan uang kartal itu masih ada,” imbuh Destry.

Menurutnya, aksesibilitas terhadap uang tunai masih menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Khususnya untuk teman-teman kita yang masih ada di daerah, di luar jangkauan yang sinyalnya juga byar pet gitu ya. Jadi itu hal yang biasa,” tuturnya.

Terkait volume pencetakan, BI selalu melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah untuk menentukan target jumlah uang yang beredar.

Pembahasan mengenai target ini biasanya dilakukan menjelang pergantian tahun anggaran.

“Di awal itu selalu kita ada bicarakan dengan pemerintah, kira-kira berapa target dari uang beredar yang nanti akan di dalam satu periode,” ungkap Destry.

Koordinasi tersebut mencakup keselarasan antara target money supply milik BI dan target issuance yang direncanakan pemerintah.

“BI punya target money supply seperti ini, pemerintah punya target issuance seperti apa, nah itu kemudian kita diskusikan termasuk di situ adalah berapa banyak BI berencana untuk mengeluarkan uang kartal atau mencetak uang kertas dan uang logam,” pungkasnya.

Uang yang kini menjadi incaran kolektor tersebut merupakan Uang Rupiah Kertas Tahun Emisi (TE) 2022 pecahan Rp100.000 dengan tahun cetak 2026.

Meskipun Purbaya Yudhi Sadewa dan Perry Warjiyo tidak lagi menduduki jabatan tersebut, pencetakan uang dengan tanda tangan mereka tetap sah sebagai bagian dari penyediaan uang kartal yang direncanakan secara matang oleh otoritas moneter.BI Pastikan Uang Bertanda Tangan Purbaya-Perry Tetap Berlaku Normal

Rekomendasi

Tinggalkan komentar