Harga Emas Antam Bertahan Meski Harga Emas Dunia Terkoreksi

Rayhan Akhari

Harga Emas Antam Bertahan Meski Harga Emas Dunia Terkoreksi

Jakarta – Pasar emas global saat ini tengah berada dalam fase konsolidasi setelah mencatatkan reli panjang dalam beberapa waktu terakhir.

Meskipun tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat dan kebijakan moneter ketat The Federal Reserve masih membayangi, level harga saat ini dinilai mulai memasuki area yang prospektif bagi investor untuk melakukan akumulasi aset secara bertahap.

Berdasarkan data pasar per Sabtu (26/9/2026), harga emas di pasar spot sempat mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,23% ke level US$ 4.284,81 per ons troi.

Namun, secara akumulatif dalam sepekan terakhir, harga emas spot mengalami tekanan koreksi sebesar 2,14%.

Kondisi serupa terjadi pada harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman Desember 2026 yang sempat menguat 0,54% ke posisi US$ 4.321,2 per ons troi, meski secara mingguan masih mencatatkan penurunan sebesar 2,34%.

Di pasar domestik, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Antam) justru menunjukkan pergerakan yang berbeda.

Merujuk pada situs resmi Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di angka Rp 2.613.000 per Sabtu (26/9/2026).

Angka tersebut mencatatkan kenaikan sebesar Rp 23.000 dibandingkan harga pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 2.590.000 per gram.

Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai bahwa fluktuasi harga emas saat ini merupakan fase konsolidasi yang wajar pasca kenaikan signifikan.

Ia menjelaskan bahwa tekanan pada harga emas global dipicu oleh indeks dolar AS yang kokoh di atas level 100 serta tingginya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS.

Saat ini, yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat berada di level 5,16%, mencerminkan kenaikan 11,5% dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Selain itu, suku bunga acuan The Fed yang berada di kisaran 3,75% hingga 4% turut menjadi faktor penekan utama.

“Hal ini memicu aksi ambil untung sementara oleh investor global,” ujar Wahyu dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).

Kebijakan hawkish The Fed yang masih membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan guna meredam inflasi persisten turut meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas.

Kendati demikian, Wahyu berpendapat bahwa prospek emas Antam dalam jangka menengah hingga panjang tetap konstruktif.

Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berfungsi sebagai bantalan alami bagi harga emas domestik.

“Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah ketegangan geopolitik energi global dan tingginya biaya impor bertindak sebagai bantalan alami yang menahan kejatuhan harga emas domestik agar tidak terkoreksi terlalu dalam,” jelas Wahyu.

Melihat kondisi tersebut, investor disarankan untuk tidak terburu-buru melakukan pembelian dalam jumlah besar.

Strategi pembelian secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA) dinilai paling relevan untuk diterapkan saat ini.

Langkah ini dianggap penting mengingat ruang koreksi harga emas masih terbuka lebar apabila data inflasi AS kembali memicu sikap lebih agresif dari bank sentral.

Hingga akhir tahun 2026, Wahyu memproyeksikan harga emas spot akan bergerak dengan level support di kisaran US$ 3.800 hingga US$ 4.000 per ons troi.

Sementara itu, untuk emas Antam, level support diprediksi berada di kisaran Rp 2,3 juta hingga Rp 2,42 juta per gram dengan resistance di rentang Rp 2,6 juta hingga Rp 2,9 juta per gram.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar