New York – Wall Street menutup perdagangan akhir pekan dengan catatan positif pada Sabtu (26/9/2026), didorong oleh lonjakan saham sektor teknologi yang terinspirasi oleh inovasi kecerdasan buatan (AI).
Indeks S&P 500 berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 0,51% ke level 7.743,41.
Indeks Nasdaq menguat 0,48% ke posisi 27.068,72.
Indeks Dow Jones Industrial Average turut menanjak 0,93% dan bertengger di angka 51.828,62.
Secara mingguan, performa pasar saham Amerika Serikat menunjukkan ketahanan yang signifikan.
S&P 500 mencatat akumulasi kenaikan sebesar 1,2% dalam sepekan terakhir.
Nasdaq bahkan membukukan kenaikan mingguan sebesar 2% setelah sebelumnya mencapai rekor penutupan tertinggi sepanjang masa pada Selasa lalu.
Sektor teknologi informasi menjadi motor utama penggerak pasar dengan pertumbuhan 0,91%.
Sektor industri menyusul di belakangnya dengan kenaikan sebesar 0,6%.
Katalis utama penguatan ini adalah performa saham Microsoft yang melesat 3,7%.
Kenaikan tersebut dipicu oleh peluncuran fitur baru pada aplikasi Copilot, termasuk agen AI yang beroperasi secara aktif.
Dominasi sektor teknologi juga terlihat dari kenaikan saham produsen chip Qualcomm sebesar 4% dan Dell sebesar 5%.
Sentimen positif juga datang dari kesepakatan cloud senilai US$ 11,6 miliar antara Akamai Technologies dan Anthropic.
Thomas Martin, manajer portofolio senior di Globalt Investments di Atlanta, menyoroti dinamika transaksi tersebut.
“Itu positif dari sudut pandang bahwa orang masih berinvestasi, kesepakatan masih dilakukan,” ungkapnya, dikutip dari laporan pasar, Sabtu (26/9/2026).
Ia menambahkan bahwa meskipun kesepakatan tersebut bersifat melingkar, pasar merespons dengan cukup baik melalui kenaikan harga saham Akamai sebesar 3,2%.
Namun, tidak semua saham teknologi berakhir di zona hijau.
Meta Platforms mencatatkan penurunan sebesar 3,3% meski sempat menguat tajam di awal pekan.
Di sisi lain, investor tetap mempertahankan kewaspadaan tinggi terhadap faktor ekonomi makro.
Harga minyak mentah Brent terpantau masih bertahan di atas level US$ 100 per barel.
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun bahkan mencapai level tertinggi dalam 19 tahun terakhir, naik 3,4 basis poin menjadi 5,196%.
Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve.
Data dari FedWatch Tool milik CME Group menunjukkan peluang 66% bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober mendatang.
Ketidakpastian geopolitik terkait potensi konflik AS dengan Iran juga memberikan tekanan psikologis bagi para pelaku pasar.
Meski demikian, laporan mengenai negosiasi bertahap untuk membuka kembali Selat Hormuz memberikan sentimen penyeimbang yang cukup stabil.
Data ekonomi makro menunjukkan pengeluaran modal terkait AI melampaui ekspektasi pada Agustus, yang menandakan gairah manufaktur barang modal tetap kuat.
Di tengah volatilitas tersebut, data LSEG mencatat valuasi S&P 500 berada di bawah 19 kali lipat dari perkiraan pendapatan, yang merupakan level terendah sejak 2023.
















