Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi akan terus menghadapi tekanan signifikan hingga penghujung tahun 2026.
Analis pasar melihat potensi mata uang Garuda untuk menguji level psikologis Rp18.000 per dolar AS dalam beberapa pekan mendatang tetap terbuka lebar.
Pada penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026), rupiah tercatat berada di posisi Rp17.902 per dolar AS.
Meskipun sempat menguat tipis 0,07% dibandingkan hari sebelumnya, mata uang domestik ini secara mingguan masih membukukan pelemahan sebesar 0,82%.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa prospek pergerakan rupiah hingga akhir tahun cenderung bergejolak.
“Dengan posisi seperti ini, risiko Rupiah kembali menyentuh bahkan sesaat menembus Rp18.000 cukup tinggi dalam beberapa pekan ke depan,” ujarnya dikutip dari laman resmi Kontan, Jumat (25/9/2026).
Menurut pengamatannya, level Rp18.000 tersebut kemungkinan besar belum menjadi keseimbangan baru yang permanen.
Bank Indonesia (BI) dinilai masih memiliki instrumen memadai untuk menjaga stabilitas, termasuk melalui intervensi valuta asing dan pengelolaan likuiditas.
Cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$146,5 miliar atau setara 5,4 bulan impor menjadi bantalan krusial di tengah tekanan eksternal.
Namun, sejumlah faktor global seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat tetap menjadi ancaman serius bagi nilai tukar.
Data menunjukkan bahwa 16 dari 18 pejabat bank sentral AS masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan hingga mencapai 4,25% sebelum tahun berakhir.
“Kondisi ini mempersempit daya tarik relatif aset rupiah dan meningkatkan risiko perpindahan dana ke aset dolar AS,” tutur Josua.
Selain suku bunga, harga minyak mentah Brent yang bertengger di kisaran US$105 per barel turut memperkeruh kondisi fundamental ekonomi domestik.
Tingginya harga energi berpotensi meningkatkan beban subsidi serta memperlebar defisit transaksi berjalan.
Di sisi domestik, inflasi pangan dan fluktuasi arus modal asing menjadi variabel yang terus dipantau ketat oleh pelaku pasar.
Data terbaru menunjukkan investor global mulai melakukan penjualan bersih pada obligasi Indonesia, yang menandakan sensitivitas tinggi terhadap dinamika global.
Proyeksi untuk kuartal IV 2026 menempatkan rupiah berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Apabila tekanan terus berlanjut dan rupiah bertahan di atas angka tersebut, tidak tertutup kemungkinan bagi otoritas moneter untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00%.
Kepercayaan pasar terhadap ketahanan fiskal dan sektor eksternal Indonesia akan menjadi penentu utama apakah rupiah mampu bertahan dari volatilitas tinggi di sisa tahun ini.






















