Wall Street Tertekan Harga Minyak, Investor Menanti Pertemuan Trump-Xi

persen

Wall Street Tertekan Harga Minyak, Investor Menanti Pertemuan Trump-Xi

New York – Bursa saham Amerika Serikat terperosok ke zona merah pada pembukaan perdagangan Jumat (25/9/2026), dipicu oleh gejolak harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik yang mendalam.

Kenaikan harga minyak mentah Brent yang menembus level US$100 per barel menjadi katalis utama pelemahan pasar.

Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di tengah berlangsungnya Sidang Umum PBB.

Kondisi tersebut diperparah oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi kebijakan larangan ekspor diesel dari Amerika Serikat.

Akibat sentimen negatif tersebut, indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 95,8 poin atau 0,19% menjadi 51.415,75.

Indeks S&P 500 turut melemah sebesar 39 poin atau 0,51% ke posisi 7.666,99.

Sementara itu, indeks Nasdaq Composite mencatatkan penurunan paling dalam sebesar 201,5 poin atau 0,75% ke level 26.734,51.

Sektor yang paling terdampak langsung oleh kenaikan harga energi adalah maskapai penerbangan dan operator kapal pesiar.

Saham-saham seperti JetBlue, American Airlines, Norwegian Cruise, dan Royal Caribbean terpantau bergerak melemah sejak awal sesi.

Pasar obligasi juga memberikan sinyal tekanan ekonomi yang nyata.

Imbal hasil atau yield US Treasury tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2004.

Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap risiko perang berkepanjangan di Timur Tengah serta potensi lonjakan biaya pinjaman di masa depan.

Di sektor teknologi, saham-saham unggulan mengalami tekanan jual yang cukup signifikan.

Meta mencatatkan penurunan sebesar 1,8%, sementara Nvidia melemah 1,1%.

Saham Marvell dan Intel bahkan terkoreksi lebih dalam dengan penurunan masing-masing sekitar 3%.

Oracle menjadi sorotan setelah sahamnya anjlok 4,2% akibat pemberitahuan force majeure pada proyek pusat data di New Mexico.

“Investor belum banyak melepas saham teknologi,” ungkap Chief Market Analyst Interactive Brokers, Steve Sosnick.

Meski tertekan, optimisme terhadap prospek bisnis kecerdasan buatan atau AI dianggap masih menjadi penyangga utama pasar saham teknologi.

Di sisi lain, investor kini mengalihkan perhatian pada pertemuan strategis antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas isu krusial terkait regulasi AI, konflik di Taiwan, serta dinamika Timur Tengah.

Sejumlah petinggi korporasi raksasa seperti Apple, Amazon, Tesla, dan General Motors dikabarkan turut hadir dalam agenda tersebut.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi bahwa kedua negara telah sepakat memperpanjang gencatan perdagangan hingga 10 Januari mendatang.

Namun, di tengah sinyal positif tersebut, data ekonomi yang kuat justru memicu kekhawatiran baru mengenai kebijakan moneter.

Pasar kini berekspektasi bahwa The Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga acuan.

CME FedWatch Tool mencatat probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan depan melonjak hingga 71%.

Angka tersebut naik signifikan dibandingkan posisi 50% pada hari sebelumnya.

Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, memberikan pernyataan bahwa kenaikan suku bunga tambahan tahun ini masih menjadi opsi yang masuk akal.

Sentimen ini diperkuat oleh data klaim pengangguran mingguan yang menunjukkan pasar tenaga kerja AS tetap berada dalam kondisi tangguh.

Indeks volatilitas CBOE, yang dikenal sebagai pengukur ketakutan investor, naik ke titik tertinggi dalam sepekan di angka 15,99.

Selain faktor makro, kinerja emiten individual juga membebani pasar.

Saham MGM Resorts anjlok 10% setelah proposal akuisisi dari People Inc milik Barry Diller ditarik.

Darden Restaurants juga tertekan 2% setelah laporan laba kuartal pertama meleset dari target ekspektasi analis.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar