Rupiah Dekati Rp 18.000, Simak Skenario Terburuk Hingga Akhir 2026

Rayhan Akhari

Rupiah Dekati Rp 18.000, Simak Skenario Terburuk Hingga Akhir 2026

Jakarta – Nilai tukar mata uang rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan yang signifikan hingga mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data perdagangan Bloomberg pada Jumat (25/9/2026), mata uang Garuda ditutup pada posisi Rp 17.903 per dolar AS.

Angka tersebut mencerminkan koreksi sebesar 0,07% dibandingkan penutupan sesi perdagangan sebelumnya.

Tekanan terhadap mata uang domestik ini dinilai bukan sekadar fluktuasi jangka pendek, melainkan dampak dari faktor eksternal yang persisten.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyatakan bahwa pelemahan ini belum mengindikasikan adanya dislokasi pada fundamental ekonomi domestik.

“Masalah utamanya datang dari kombinasi yield Treasury AS yang sangat tinggi, dolar yang kuat, serta Brent yang kembali di atas US$ 100 per ons troi setelah eskalasi risiko energi Timur Tengah,” ujar Syafruddin dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).

Menurut pengamatannya, ketiga faktor tersebut bergerak searah sehingga mempersulit pemulihan nilai tukar dalam waktu dekat.

Ia menegaskan bahwa tekanan yang terjadi saat ini berpotensi bertahan selama premi risiko global masih berada di level yang tinggi.

Kendati mendekati angka Rp 18.000, level tersebut dipandang sebagai batas psikologis pasar dan bukan penanda krisis ekonomi secara otomatis.

Bank Indonesia (BI) sendiri telah mengambil langkah dengan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 23 September 2026.

Keputusan tersebut dinilai sebagai upaya menyeimbangkan stabilitas mata uang, laju inflasi, dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Syafruddin mencatat bahwa hingga 21 September 2026, investasi portofolio Indonesia masih mencatatkan net inflow sekitar US$ 400 juta pada kuartal III 2026.

Namun, ia memperingatkan bahwa bantalan tersebut mungkin tidak cukup kuat untuk menahan gejolak eksternal.

“Bantalan ini belum cukup untuk membalikkan arah jika global risk-free rate dan premi energi terus naik,” jelasnya.

Risiko tambahan muncul jika inflasi di Amerika Serikat kembali meningkat, yang dapat mendorong kebijakan moneter The Fed menjadi lebih ketat.

Kondisi tersebut akan memicu kenaikan ekspektasi suku bunga dan yield Treasury AS, yang membuat aset berdenominasi dolar lebih menarik bagi investor global.

Dampaknya, investor dapat menuntut premi risiko lebih tinggi untuk aset berdenominasi rupiah, seperti Surat Berharga Negara (SBN).

Syafruddin menyebutkan bahwa efek domino dari kebijakan The Fed dapat menjalar ke berbagai sektor ekonomi.

“Shock Fed tidak berhenti di pasar valuta asing. Ia dapat bergerak dari Treasury ke arus modal, rupiah, inflasi, BI, kredit, dan akhirnya pertumbuhan,” kata Syafruddin.

Depresiasi rupiah yang berlanjut juga berisiko meningkatkan biaya impor dan memicu imported inflation.

Hal ini secara langsung mempersempit ruang gerak bank sentral untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter ke depan.

Untuk penutupan tahun 2026, ia memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.700 hingga Rp 18.200 per dolar AS.

Dalam skenario terburuk, jika tekanan eksternal meningkat bersamaan dengan arus modal asing yang keluar, rupiah berpotensi melemah ke kisaran Rp 18.200 hingga Rp 18.400 per dolar AS.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar