Menakar Potensi Saham GOTO Keluar dari Level Gocap

Kholida Rahman

Menakar Potensi Saham GOTO Keluar dari Level Gocap

Jakarta – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terus mengalami tekanan jual yang signifikan setelah kebijakan batas harga minimum Rp 50 per saham resmi dicabut oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) per 28 September 2026.

Hingga perdagangan Kamis (1/10/2026) pukul 11.00 WIB, harga saham emiten teknologi ini merosot tajam sebesar 12,5% dan bertengger di level Rp 28 per lembar.

Volume transaksi penjualan tercatat sangat tinggi, mencapai rata-rata 1 miliar lot per hari selama periode koreksi ini berlangsung.

Senior Equity Research Analyst Phillip Sekuritas Indonesia, Edo Ardiansyah, menyatakan bahwa pergerakan harga yang tajam merupakan konsekuensi logis dari mekanisme pasar yang sedang mencari titik keseimbangan baru.

“Pasar sedang mencari harga yang lebih mencerminkan kondisi permintaan,” ujar Edo sebagaimana dikutip dari paparan analis pada Kamis (1/10/2026).

Menurut Edo, penurunan harga hingga ke level Rp 28 per saham saat ini menimbulkan anomali valuasi yang cukup ekstrem bagi perusahaan.

“Kalau harga saham GOTO berada di Rp 28, pasar seolah-olah hanya menghargai aset likuidnya dan tidak memberikan nilai pada bisnis yang sedang berjalan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa harga tersebut sama sekali tidak mencerminkan fundamental bisnis perseroan yang saat ini sedang berada dalam tren positif.

GOTO diketahui telah mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang konsisten serta perbaikan profitabilitas yang signifikan dalam beberapa kuartal terakhir.

“GOTO punya bisnis dengan pendapatan yang tumbuh dan profitabilitas yang terus membaik. Karena itu, menurut kami harga tersebut belum mencerminkan fundamental perusahaan,” tegas Edo.

Berdasarkan konsensus analis, nilai wajar saham GOTO diproyeksikan berada di kisaran Rp 65 hingga Rp 74 per lembar.

Jika mengacu pada harga saat ini, terdapat potensi kenaikan sebesar 132% hingga 164% dari posisi harga sekarang.

Namun, Edo mengingatkan bahwa angka tersebut bukanlah jaminan harga akan segera melonjak dalam waktu dekat.

“Selisihnya memang lebar. Namun, potensi kenaikan itu baru akan lebih mudah terealisasi ketika tekanan jual mereda dan investor kembali menilai GoTo berdasarkan kinerja bisnisnya,” tambahnya.

Secara operasional, GoTo telah berhasil mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan pendapatan bersih pada kuartal II 2026 menyentuh angka Rp 5,7 triliun.

Pencapaian EBITDA Grup yang disesuaikan juga telah melampaui Rp 1 triliun untuk pertama kalinya, dengan target setahun penuh di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun.

Selain kinerja keuangan, perusahaan yang dipimpin Hans Patuwo ini juga memiliki katalis positif melalui aksi pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal Rp 3,5 triliun.

Manajemen juga tengah mengusulkan pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri untuk mengurangi jumlah saham beredar di pasar.

Investor kini menanti efektivitas dari aksi korporasi tersebut yang diharapkan dapat memperbaiki struktur modal sekaligus meredam sentimen negatif di pasar.

Pelaku pasar akan terus mencermati pelaksanaan buyback dan pembatalan saham treasuri, sembari memantau arus kas serta keberlanjutan laba perusahaan di masa depan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar