Jakarta – PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) resmi mengumumkan langkah strategis untuk bertransformasi menjadi perusahaan infrastruktur ekosistem kecerdasan buatan (AI) terpadu di Indonesia.
Upaya ini diwujudkan melalui serangkaian aksi korporasi besar yang melibatkan akuisisi saham dan restrukturisasi operasional menyeluruh.
Perusahaan berencana mengambil alih 29,88% saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) melalui anak usahanya, PT Cakrawala Nexus Investama (CNI).
Akuisisi tersebut dilakukan dengan membeli 6,68 miliar saham INET seharga Rp300 per lembar.
Total nilai transaksi diperkirakan mencapai Rp2 triliun.
Besaran nilai ini setara dengan 647,90% dari ekuitas konsolidasian DOOH per 30 Juni 2026.
Berdasarkan data tersebut, transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi material sangat signifikan menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17/2020.
Integrasi dengan INET diproyeksikan akan memperkuat lima pilar bisnis utama perusahaan.
Pilar tersebut mencakup pengembangan pusat data berbasis AI serta penyediaan konektivitas berkecepatan tinggi.
Selain itu, perusahaan akan fokus pada perluasan jaringan serat optik baik di darat maupun bawah laut.
Layanan energi hijau melalui pembangkit listrik tenaga surya juga menjadi bagian dari rencana pengembangan infrastruktur.
Dalam merealisasikan ambisi tersebut, DOOH berkolaborasi dengan pemegang saham pengendali barunya, PT Sinergi Internasional Investama (SII).
Mereka telah menyiapkan empat skema aksi korporasi yang saling mendukung.
Langkah pertama adalah penyediaan fasilitas pinjaman pemegang saham dari SII dengan plafon mencapai Rp5 triliun.
Fasilitas pinjaman ini memiliki jangka waktu tenor selama 10 tahun dengan tingkat bunga sebesar 7,50% per tahun.
“DOOH akan mencairkan Rp2 triliun pada tahap awal untuk membiayai akuisisi saham INET,” demikian pernyataan resmi perusahaan, Jumat (2/10/2026).
Sisa plafon pinjaman akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan ekspansi bisnis di masa depan.
Langkah kedua melibatkan perubahan penggunaan sisa dana hasil penawaran umum perdana saham atau IPO.
Sebanyak Rp120 miliar dari sisa dana IPO akan dialihkan sebagai setoran modal kepada CNI untuk memperkuat struktur pendanaan akuisisi.
Ketiga, perusahaan akan menggelar penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Rencananya, DOOH akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 154,77 miliar saham baru yang disertai dengan Waran Seri II.
Langkah keempat berfokus pada restrukturisasi perusahaan dan pembenahan tata kelola secara menyeluruh.
Restrukturisasi ini meliputi perubahan nama perusahaan serta penyesuaian alamat kedudukan.
Selain itu, perusahaan akan melakukan penyesuaian klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI) 2025.
Perombakan jajaran direksi dan komisaris juga menjadi agenda penting dalam restrukturisasi tersebut.
Peningkatan modal dasar perusahaan pun akan dilakukan sebagai bagian dari agenda pembenahan ini.
Seluruh rencana aksi korporasi tersebut akan diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Pertemuan bagi para pemegang saham dijadwalkan akan berlangsung pada 9 November 2026.























