Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan setelah ditutup melemah 1,01 persen atau 61,63 poin ke level 6.009,50 pada penutupan perdagangan Kamis (1/10/2026).
Pencapaian tersebut menandai koreksi beruntun yang dialami IHSG selama enam hari perdagangan berturut-turut.
Data pasar menunjukkan bahwa indeks sempat bergerak fluktuatif di rentang level terendah 5.973 hingga level tertinggi 6.095 sepanjang hari.
Sentimen negatif di pasar modal domestik tercermin dari dominasi saham yang mengalami pelemahan.
Sebanyak 450 saham terpantau ditutup di zona merah saat lonceng penutupan perdagangan dibunyikan.
Sementara itu, hanya 206 saham yang mampu bertahan di zona hijau.
Sisanya, sebanyak 134 saham tercatat tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Tekanan jual yang konsisten dari investor asing menjadi salah satu faktor utama yang menekan performa indeks.
Berdasarkan data perdagangan, investor asing mencatatkan nilai jual bersih atau net sell sebesar Rp 241,86 miliar di seluruh pasar.
Namun, di balik aksi jual masif tersebut, investor asing justru melakukan akumulasi pada sejumlah saham tertentu di awal bulan Oktober 2026.
Strategi selektif ini dilakukan asing di tengah volatilitas pasar yang masih cukup dinamis.
Berikut adalah daftar 10 saham dengan nilai beli bersih (net buy) terbesar oleh investor asing pada Kamis (1/10/2026):
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memimpin daftar dengan nilai net buy mencapai Rp 79,13 miliar.
Posisi kedua ditempati oleh PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan nilai Rp 74,69 miliar.
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyusul di peringkat ketiga dengan akumulasi senilai Rp 57,56 miliar.
Selanjutnya, PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan beli bersih sebesar Rp 44,94 miliar.
PT Timah Tbk (TINS) berada di urutan kelima dengan nilai net buy Rp 40,53 miliar.
Peringkat keenam hingga kesepuluh diisi oleh PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dengan Rp 18,64 miliar.
Disusul oleh PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) senilai Rp 17,5 miliar.
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mencatatkan angka Rp 15,54 miliar.
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan nilai Rp 15,0 miliar.
Terakhir, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menutup daftar dengan nilai beli bersih sebesar Rp 9,55 miliar.
Kondisi pasar yang masih tertekan ini memicu berbagai diskusi mengenai instrumen pendukung stabilitas harga.
Salah satu topik yang mengemuka adalah efektivitas mekanisme short selling dalam memperbaiki pembentukan harga saham di tengah kondisi pasar yang sedang mengalami tren penurunan berkepanjangan.
Hingga saat ini, pelaku pasar masih memantau pergerakan data makroekonomi untuk menentukan arah investasi selanjutnya.


















