Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi membuka fasilitas transaksi short selling pada perdagangan Kamis (1/10/2026).
Kebijakan ini menjadi babak baru dalam mekanisme perdagangan di pasar modal domestik.
Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup melemah pada hari perdana implementasi tersebut.
IHSG tercatat terkoreksi 1,02 persen atau 61,63 poin ke level 6.009,50.
Indeks sempat bergerak fluktuatif di rentang 5.973,16 hingga 6.095,23 sepanjang sesi perdagangan.
Otoritas bursa menetapkan lima saham emiten berkapitalisasi besar sebagai instrumen awal short selling.
Kelima saham tersebut adalah PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Kinerja kelima saham tersebut bervariasi di hari pertama kebijakan berlaku.
Saham BUMI mencatatkan penurunan terdalam sebesar 2,86 persen ke posisi Rp 170 per saham.
Sementara itu, ASII melemah 1,96 persen ke Rp 4.510 dan BBCA turun 1,23 persen ke level Rp 6.000.
Di sisi lain, saham BRPT ditutup stagnan, sedangkan INDF menjadi satu-satunya yang menguat 0,37 persen ke Rp 6.750.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa operasional sistem berjalan dengan lancar tanpa kendala teknis berarti.
Dia menyebutkan sekitar 50 investor telah mengaktifkan rekening khusus untuk mulai melakukan transaksi tersebut.
“Dari saham-saham yang masuk dalam daftar short selling itu, tidak terjadi penurunan harga yang tajam. Jadi secara umum, pemberlakuan short selling berjalan lancar,” ujar Jeffrey, Kamis (1/10/2026).
Fasilitas ini sementara baru dapat diakses melalui dua perusahaan sekuritas, yaitu Semesta Indovest Sekuritas dan Ajaib Sekuritas Asia.
Pihak Ajaib Sekuritas menegaskan komitmen mereka dalam mengedepankan kepatuhan dan edukasi nasabah.
“Beragamnya pilihan strategi investasi perlu diimbangi pemahaman mengenai mekanisme dan risiko. Kami juga terus memantau kebutuhan nasabah dengan mengedepankan edukasi serta investasi yang bertanggung jawab,” ungkap AVP Digital Marketing & Branding Ajaib Sekuritas, Azizah, sebagaimana dikutip dari pernyataan resmi perusahaan.
Analis pasar modal menanggapi penerapan mekanisme ini dengan pandangan moderat.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menilai dampak short selling terhadap IHSG belum akan signifikan dalam waktu dekat.
“Risiko tekanan tambahan memang ada, tetapi pada tahap awal dampaknya terhadap IHSG masih relatif terbatas,” tutur Ekky, Kamis (1/10/2026).
Menurutnya, likuiditas yang besar pada lima saham tersebut mampu menyerap tambahan transaksi yang ada.
Dalam jangka panjang, short selling diharapkan dapat membantu pembentukan harga yang lebih efisien dan meningkatkan likuiditas pasar.
Namun, para ahli tetap mengingatkan investor mengenai potensi risiko short squeeze dan kerugian teoritis yang tidak terbatas jika harga saham justru melambung tinggi.
Head of Investment Information Team Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina, menekankan pentingnya pemahaman risiko dalam transaksi ini.
“Short selling berpotensi meningkatkan likuiditas, mendukung pembentukan harga yang lebih efisien, serta menjadi sarana lindung nilai ketika pasar melemah. Namun, transaksi ini tetap memiliki risiko,” jelas Martha melalui Market Minutes, Kamis (1/10/2026).




















