Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan September 2026 dengan catatan performa yang tertekan cukup dalam.
Data Bloomberg menunjukkan indeks melemah sebesar 6,96% secara bulanan, yakni dari posisi 6.525,47 pada akhir Agustus menjadi 6.071,13 pada penutupan akhir September 2026.
Penurunan ini semakin memperdalam koreksi IHSG secara year to date (YtD) di tengah sentimen pasar yang masih cenderung negatif.
Tekanan jual dari investor asing menjadi salah satu pemicu utama merosotnya performa bursa domestik sepanjang bulan lalu.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa faktor utama pelemahan ini didominasi oleh kebijakan moneter global.
“Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September menjadi 3,75%-4,00%,” ujar Nafan dikutip dari laporan resmi analis, Jumat (2/10/2026).
Keputusan bank sentral Amerika Serikat tersebut berdampak signifikan terhadap aset-aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain kebijakan suku bunga, ketidakpastian ekonomi global serta fluktuasi harga minyak mentah yang sempat menyentuh level US$132 per barel turut memperkeruh sentimen investor.
Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) memilih untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang kuat.
Meskipun pasar sedang diliputi volatilitas tinggi, sejumlah analis menyarankan investor untuk tetap tenang dan mulai melirik strategi bottom fishing.
Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menilai koreksi harga saham saat ini justru menjadi peluang untuk melakukan akumulasi bertahap pada emiten dengan fundamental kuat.
Sektor perbankan berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI menjadi prioritas utama.
“Saham-saham tersebut berpotensi menjadi perhatian ketika arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik,” tutur Wawan dalam wawancara terpisah, Kamis (1/10/2026).
Selain perbankan, sektor komoditas logam dan emas juga dianggap menarik untuk dicermati oleh pelaku pasar.
Wawan merekomendasikan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebagai pilihan investasi.
“ANTM dan BRMS juga menarik, apalagi ANTM menjadi saham yang paling banyak dibeli asing di September,” ungkap Wawan.
Untuk menghadapi sisa tahun 2026, investor disarankan untuk tetap memperhatikan pergerakan arus modal asing dan kebijakan moneter baik dari The Fed maupun BI.
Nafan menambahkan bahwa strategi akumulasi bertahap adalah langkah bijak bagi investor yang memiliki orientasi jangka panjang.
“Secara teknikal dan fundamental, koreksi sehat ini dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham pilihan sebelum harga memasuki fase pemulihan,” jelas Nafan.
Selain itu, sektor konsumer dan perkebunan seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), serta PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) turut masuk dalam radar pemantauan para analis.


















