Jakarta – Saham emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatatkan lonjakan signifikan pada perdagangan Selasa (6/10/2026).
Harga saham perusahaan ditutup menguat 6,9 persen ke level Rp 31 per lembar.
Tingginya minat pelaku pasar terlihat dari volume perdagangan yang mencapai 18,44 miliar saham.
Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp 570,9 miliar sepanjang sesi perdagangan berlangsung.
Analis Panin Sekuritas, Sarkia Adelia, menilai tren penguatan ini dipicu oleh meningkatnya atensi investor terhadap valuasi perusahaan.
Saat ini, saham GOTO diperdagangkan pada level satu kali nilai buku atau Price to Book Value (PBV).
“Sekarang GoTo dihargai sekitar satu kali nilai buku atau 1x PBV, artinya nilai pasarnya kurang lebih setara dengan ekuitas yang tercatat. Menurut kami, ini sudah tergolong murah,” ujar Sarkia, Selasa (6/10/2026).
Sebagai perbandingan, perusahaan sejenis di kawasan regional umumnya memiliki valuasi tiga hingga empat kali nilai buku.
Selain aspek valuasi, performa bisnis sektor fintech menjadi katalis utama bagi fundamental perusahaan.
Segmen fintech kini menunjukkan kontribusi yang semakin signifikan terhadap kinerja grup secara keseluruhan.
Pada kuartal II-2026, EBITDA yang disesuaikan pada unit bisnis fintech dilaporkan melonjak 447 persen secara tahunan menjadi Rp 481 miliar.
Capaian tersebut melampaui kinerja segmen On-Demand Services (ODS) yang mencatatkan angka Rp 464 miliar.
Pendapatan bersih unit fintech juga mencatatkan kenaikan sebesar 53 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 2,07 triliun.
Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan basis pengguna aktif bulanan yang mencapai 28,8 juta atau naik 29 persen.
Volume transaksi pada segmen ini juga mengalami lonjakan tajam sebesar 91 persen menjadi 2,4 miliar transaksi.
Core Gross Transaction Value (GTV) fintech turut tumbuh 91 persen menjadi Rp 157 triliun.
Sektor bisnis pinjaman digital perusahaan juga mencatatkan pertumbuhan portofolio sebesar 58 persen menjadi Rp 11 triliun.
Menurut Sarkia, dinamika ini memberikan peluang bagi perusahaan di tengah tantangan regulasi pada sektor bisnis lainnya.
“Fintech berpotensi menjadi katalis fundamental yang kuat bagi GoTo karena GoPay semakin sering digunakan untuk bertransaksi, sementara bisnis pinjamannya ikut berkembang dan membuka ruang pertumbuhan pendapatan,” jelas Sarkia.
Faktor pendukung lain bagi pergerakan saham GOTO adalah rencana strategis alokasi modal melalui buyback.
Perusahaan telah mengantongi persetujuan untuk melaksanakan pembelian kembali saham dengan anggaran maksimal Rp 3,5 triliun.
Langkah ini dipandang mampu menyeimbangkan tekanan jual yang sempat membayangi harga saham di pasar.
Selain buyback, manajemen GOTO berencana melakukan pembatalan atas 32 miliar saham tresuri.
Rencana ini akan dibahas lebih lanjut dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Oktober 2026 mendatang.
Pembatalan saham tersebut diproyeksikan akan meningkatkan porsi kepemilikan saham bagi para investor secara proporsional.
“Anggaran buyback Rp 3,5 triliun memberikan kapasitas yang besar bagi GoTo untuk menyerap sebagian tekanan jual apabila program tersebut dilaksanakan,” tambah Sarkia.


















