Jakarta – Pasar surat utang domestik diprediksi akan bergerak pada rentang imbal hasil atau yield yang menarik sepanjang perdagangan hari ini, Rabu (7/10/2026).
Sentimen positif dari pasar keuangan global menjadi katalis utama yang memberikan dorongan bagi optimisme investor di dalam negeri.
Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas, Ridwan Adi Gunawan, memproyeksikan yield Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor 10 tahun akan berada di kisaran 7,10% hingga 7,25%.
Proyeksi tersebut didasari oleh kondisi pasar global yang kian kondusif setelah Wall Street mencatatkan reli pada perdagangan Selasa.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq bahkan berhasil ditutup pada rekor tertinggi baru.
Penguatan tersebut dipicu oleh penurunan imbal hasil US Treasury serta pelemahan harga minyak dunia.
Dua faktor ini secara langsung meredakan kekhawatiran pasar terhadap ancaman suku bunga tinggi dan inflasi.
Saham sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor kembali menjadi penggerak utama pasar saham Amerika Serikat.
Para investor kini mulai mengalihkan fokus mereka menuju antisipasi musim laporan laba kuartal III-2026.
Di sisi lain, data makroekonomi Amerika Serikat menunjukkan pelebaran defisit perdagangan menjadi USD 105,6 miliar pada Agustus 2026.
Angka tersebut melampaui konsensus pasar yang sebelumnya memperkirakan defisit di angka USD 102,0 miliar.
Kondisi berbeda terjadi di Eropa, di mana pesanan pabrik Jerman mengalami kontraksi sebesar 10,6% secara bulanan pada Agustus 2026.
Data tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar dan membalikkan tren kenaikan yang sempat terjadi pada bulan Juli lalu.
Sementara itu, pasar obligasi domestik mencatatkan hasil positif pada lelang Sukuk yang berlangsung Selasa kemarin.
Total penawaran yang masuk mencapai Rp 32,61 triliun, meningkat signifikan dibandingkan lelang sebelumnya yang hanya sebesar Rp 26,89 triliun.
Surat Perbendaharaan Negara Syariah (SPNS) bertenor pendek menjadi instrumen yang paling diminati dengan porsi 52,6% dari total permintaan.
Pada pasar sekunder, yield SUN sempat tercatat lebih tinggi sekitar 1 hingga 4 basis poin (bps).
Imbal hasil untuk tenor 5 tahun ditutup di level 7,06%, sementara untuk tenor 10 tahun berada di level 7,18%.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan tipis sebesar 0,04% ke level Rp 17.900 per dolar AS.
Namun, tekanan eksternal terhadap rupiah dinilai mulai mereda seiring dengan penurunan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,15% ke level 102,01.
“Mengingat perkembangan terbaru di pasar global dan domestik, kami memperkirakan imbal hasil Indo-GB tenor 10 tahun akan diperdagangkan di kisaran 7,10-7,25% untuk hari ini,” ujar Ridwan dalam risetnya, Rabu (7/10/2026).
Para pelaku pasar disarankan untuk mencermati sejumlah seri obligasi pemerintah yang dinilai atraktif untuk diperdagangkan saat ini.
Beberapa seri yang direkomendasikan meliputi PBS003, PBS030, FR0082, FR0100, serta FR0083.



















