Jakarta – Sektor perdagangan Indonesia menunjukkan geliat positif selama periode Januari hingga Juli 2025, ditandai dengan peningkatan signifikan pada nilai ekspor dan total impor, yang turut menopang neraca perdagangan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekspor mencapai 8,03 persen dengan total US$160,16 miliar, sementara total impor naik 3,41 persen menjadi US$136,51 miliar, didorong kuat oleh sektor barang modal.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa lonjakan ekspor tersebut terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mencatat nilai US$128,13 miliar atau naik 17,4 persen.
Tiga besar negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia adalah Cina, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiganya sekitar 41,53 persen dari total ekspor nonmigas Januari-Juli 2025. Ekspor ke Cina didominasi besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel, sementara ke Amerika Serikat didominasi mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian, serta alas kaki.
Pudji menambahkan, peningkatan impor Januari-Juli 2025 secara kumulatif didominasi oleh sektor nonmigas yang mencapai US$118,13 miliar atau naik 6,97 persen. Sebaliknya, impor migas justru mengalami penurunan 14,79 persen menjadi US$18,38 miliar pada periode yang sama.
Berdasarkan penggunaan, impor barang modal menjadi penyumbang utama peningkatan impor secara keseluruhan, melonjak 20,56 persen menjadi US$27,38 miliar sepanjang Januari-Juli 2025. Peningkatan juga terlihat pada bahan baku atau penolong.
Cina menjadi negara asal impor nonmigas utama Indonesia sepanjang Januari-Juli 2025 dengan nilai US$47,67 miliar (40,35 persen), diikuti Jepang sebesar US$8,77 miliar (7,43 persen), dan Amerika Serikat US$5,75 miliar (4,87 persen). Impor dari Cina didominasi mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya.
Kendati demikian, BPS mencatat nilai impor Indonesia pada Juli 2025 saja menunjukkan penurunan 5,68 persen menjadi US$20,57 miliar, dibanding periode yang sama tahun 2024 yang mencapai US$21,86 miliar. Penurunan ini diumumkan dalam konferensi pers daring pada Senin, 1 September 2025.
Penurunan impor bulanan ini didorong oleh sektor migas yang anjlok 29,36 persen menjadi US$2,51 miliar dari sebelumnya US$3,56 miliar. Penurunan impor migas ini menyumbang 4,78 persen terhadap total penurunan nilai impor Juli. Sementara itu, impor nonmigas juga turun tipis 1,29 persen menjadi US$18,06 miliar.
Secara penggunaan pada Juli 2025, impor barang konsumsi dan bahan baku penolong tercatat menurun menjadi masing-masing US$2,03 miliar dan US$14,17 miliar. Namun, impor barang modal justru menunjukkan peningkatan signifikan 18,84 persen, dengan nilai mencapai US$4,38 miliar dari sebelumnya US$3,68 miliar.

























