Jakarta – Gelombang aksi pembelian kembali saham atau buyback kembali marak dilakukan oleh berbagai emiten di Bursa Efek Indonesia menjelang penutupan tahun 2026.
Langkah korporasi ini dipandang sebagai instrumen strategis bagi perusahaan untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis internal.
Sejumlah emiten besar telah mengalokasikan anggaran signifikan untuk merealisasikan program tersebut.
PT United Tractors Tbk (UNTR) memimpin daftar dengan menyiapkan dana mencapai Rp 2 triliun.
Selain itu, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menganggarkan dana sebesar Rp 1,38 triliun untuk aksi korporasi serupa.
Emiten lain yang turut serta dalam aksi ini meliputi PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) sebesar Rp 400 miliar, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) sebesar Rp 500 miliar, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp 500 miliar, serta PT Harum Energy Tbk (HRUM) senilai Rp 120 miliar.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa efektivitas buyback sangat bergantung pada dua variabel utama.
“Pertama, besaran dana buyback dibandingkan dengan kapitalisasi pasar serta likuiditas perdagangan harian saham,” ujar Wafi dikutip dari keterangan tertulisnya, Sabtu (3/10/2026).
Faktor kedua yang tidak kalah penting adalah kesungguhan emiten dalam merealisasikan rencana yang telah dipublikasikan kepada publik.
Wafi menyoroti bahwa seringkali realisasi buyback di lapangan jauh lebih kecil dibandingkan dengan total dana yang diumumkan sebelumnya.
Menurutnya, buyback akan memberikan dampak maksimal ketika harga saham berada di bawah nilai intrinsiknya dan perusahaan memiliki kelebihan kas yang tidak terserap untuk ekspansi produktif.
Namun, ia menegaskan bahwa langkah ini bukanlah solusi permanen untuk memperbaiki fundamental perusahaan yang sedang menurun.
“Pendekatan yang lebih tahan lama adalah memperbaiki margin, menjaga pertumbuhan laba secara konsisten, dan membagikan dividen secara berkelanjutan,” ujar Wafi melalui pernyataan resmi yang dirilis Jumat (2/10/2026).
Di sisi lain, Analis Investindo Nusantara Sekuritas, Pandhu Dewanto, menilai aksi ini memberikan sentimen positif karena secara instan menciptakan permintaan di pasar.
“Investor dapat melihat aksi buyback sebagai indikasi bahwa manajemen memiliki keyakinan terhadap prospek dan valuasi saham perusahaan,” kata Pandhu dalam analisisnya, Sabtu (3/10/2026).
Pandhu menyarankan investor untuk mencermati emiten dengan nilai buyback yang besar dibandingkan dengan kapitalisasi pasarnya.
Ia mencontohkan saham TOWR sebagai salah satu opsi menarik dengan pertimbangan valuasi saat ini.
Pandhu mencatat bahwa Price to Earnings Ratio (PER) TOWR berada di kisaran 6,5 kali dengan Price to Book Value (PBV) sekitar 0,8 kali.
Investor disarankan untuk melakukan strategi buy on weakness pada saham tersebut dengan target jangka pendek di level Rp 450 hingga Rp 500.
Untuk jangka panjang, ia memperkirakan target harga bisa menyentuh kisaran Rp 600 hingga Rp 650 seiring dengan perbaikan kondisi pasar.


















