Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan pada Jumat (2/10/2026) dengan catatan penguatan sebesar 0,46 persen ke posisi 6.036,88.
Meskipun terjadi pemulihan teknis atau rebound pada hari terakhir perdagangan, performa indeks secara mingguan masih menunjukkan tren negatif.
Data yang dihimpun dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI Business menunjukkan bahwa IHSG mengalami koreksi sebesar 3,28 persen dalam akumulasi perdagangan selama sepekan terakhir.
Tekanan pada pasar modal domestik dipicu oleh derasnya arus keluar modal asing yang cukup signifikan.
Investor asing terpantau melakukan aksi jual bersih atau net sell dengan nilai jumbo mencapai Rp 1,27 triliun di seluruh pasar pada perdagangan Jumat saja.
Secara total, akumulasi net sell asing selama periode satu pekan terakhir telah menyentuh angka Rp 4,32 triliun.
Kondisi ini mencerminkan tingginya tekanan jual yang menekan laju pertumbuhan indeks nasional dalam kurun waktu lima hari perdagangan.
Meski demikian, di balik arus modal keluar yang masif, pelaku pasar asing tetap menunjukkan minat pada sejumlah emiten tertentu.
Beberapa saham terpantau masih mencatatkan aliran dana masuk atau net buy meski pasar sedang berada dalam tekanan besar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menempati urutan pertama sebagai saham dengan net buy terbesar asing dalam sepekan terakhir dengan nilai Rp 88,03 miliar.
Posisi kedua ditempati oleh PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang mencatatkan net buy sebesar Rp 74,44 miliar.
Selanjutnya, PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan net buy sebesar Rp 62,56 miliar, disusul oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp 57,25 miliar.
Saham ritel PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga menjadi sasaran akumulasi asing dengan nilai Rp 49,09 miliar.
Daftar sepuluh saham dengan net buy asing terbesar sepekan ini dilengkapi oleh PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) sebesar Rp 34,96 miliar.
Kemudian terdapat PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan nilai Rp 20,43 miliar serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp 18,79 miliar.
Dua posisi terakhir diisi oleh PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA) dengan nilai Rp 14,79 miliar dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) sebesar Rp 9,59 miliar.
Aktivitas beli bersih pada saham-saham tersebut memberikan gambaran bahwa investor asing masih melakukan strategi selektif di tengah sentimen negatif pasar.
Kondisi pasar yang fluktuatif ini menuntut investor domestik untuk tetap waspada terhadap pergerakan arus modal asing di masa mendatang.
Hingga penutupan perdagangan Jumat, volatilitas pasar masih menjadi sorotan utama bagi para pelaku ekonomi nasional.
Ketidakpastian global dan domestik dinilai menjadi faktor utama yang mempengaruhi pola investasi para pemegang saham di Indonesia saat ini.


















