Jakarta – Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama tertekannya nilai tukar rupiah hingga mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pada perdagangan Selasa (2/6) pagi, mata uang Garuda melemah 74 poin atau 0,42 persen ke posisi Rp17.879 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ariston Tjendra, mengungkapkan bahwa ketidakpastian hubungan AS-Iran telah memicu kekhawatiran pasar global terhadap pasokan energi. Kondisi ini berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia yang menekan mata uang negara berkembang.
“Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih soal konflik AS dan Iran. Kabar terbaru, AS dan Iran masing-masing belum sepakat damai, bahkan saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah,” ujar Ariston.
Selain faktor eksternal, Ariston menyoroti adanya tekanan dari arus modal keluar (capital outflow) di pasar saham dan obligasi domestik. Permintaan dolar AS yang tinggi di dalam negeri untuk kebutuhan repatriasi dividen serta pembayaran utang luar negeri turut memperparah pelemahan rupiah.
Senada dengan hal tersebut, Analis Mata Uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengakui bahwa risiko rupiah menembus level Rp18.000 masih terbuka lebar. Namun, ia menilai peluang tersebut belum akan terjadi dalam waktu dekat selama tidak ada sentimen negatif tambahan yang signifikan.
“Kemungkinan ada, namun tidak besar, masih ada ruang plus 100 poin lebih. Saya berharap tidak akan menembus Rp18 ribu,” kata Lukman.
Lukman menambahkan, pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada dinamika data ekonomi dan eskalasi situasi di Timur Tengah. Jika ketegangan di kawasan tersebut terus memanas, ia tidak menampik kemungkinan level psikologis tersebut akan tersentuh dalam pekan ini.
Meski tekanan pasar cukup kuat, para analis berharap proses negosiasi damai antara pihak-pihak yang berkonflik dapat segera membuahkan hasil. Harapannya, stabilitas pasar keuangan dapat kembali terjaga dan meredam laju pelemahan rupiah yang saat ini berada di salah satu titik terlemah sepanjang tahun.






















