Jakarta – Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal membayangi sektor manufaktur Indonesia menyusul lonjakan harga gas industri yang signifikan. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea mengungkapkan bahwa dua perusahaan keramik berskala besar di Bekasi, yakni Milan Keramik dan Mulia Keramik, kini berada di ambang penghentian operasional akibat tingginya biaya energi tersebut.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran serius terhadap nasib ribuan tenaga kerja. Andi Gani menyebutkan bahwa jika pemerintah tidak segera mengambil kebijakan strategis dalam waktu dekat, sebanyak 55 ribu pekerja terancam kehilangan mata pencaharian dalam kurun waktu 10 hari ke depan. Pihak serikat pekerja telah menerima laporan bahwa manajemen perusahaan mulai membahas keberlanjutan operasional yang berujung pada potensi penutupan pabrik.
Menurut Andi Gani, kenaikan harga gas industri menjadi beban operasional yang tidak lagi mampu ditanggung oleh perusahaan. Harga gas yang sebelumnya berada di kisaran 6 dolar AS per MMBTU kini melonjak tajam hingga mencapai 23 dolar AS per MMBTU. Peningkatan biaya energi ini secara langsung menekan margin keuntungan dan efisiensi produksi, khususnya bagi industri manufaktur yang sangat bergantung pada penggunaan gas sebagai bahan bakar utama dalam proses pembakaran dan pengolahan material.
Dampak Sistemik pada Sektor Manufaktur
Tidak hanya industri keramik, tekanan harga gas juga diprediksi akan melumpuhkan sektor lain seperti industri tekstil. Ketergantungan terhadap gas industri membuat sektor-sektor tersebut rentan terhadap fluktuasi harga global maupun kebijakan pasokan domestik. Andi Gani menilai bahwa skenario penutupan pabrik ini bukan sekadar ancaman, melainkan realitas yang sedang dihadapi di lapangan seiring dengan meningkatnya biaya produksi yang tidak lagi kompetitif di pasar.
Dalam Rapat Kerja Nasional Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta, Andi Gani menyoroti paradoks yang terjadi di Indonesia. Sebagai salah satu negara produsen gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, Indonesia justru mengalami kendala pasokan dan mahalnya harga gas untuk kebutuhan domestik. Ia mengkritisi kebijakan ekspor yang dinilai lebih diprioritaskan dibandingkan pemenuhan kebutuhan energi bagi industri dalam negeri yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Tuntutan Intervensi Pemerintah
KSPSI mendesak pemerintah untuk segera melakukan intervensi guna menstabilkan harga gas industri. Langkah konkret diperlukan untuk mencegah gelombang PHK yang dapat berdampak buruk pada stabilitas sosial dan ekonomi nasional. Andi Gani menyatakan bahwa serikat pekerja telah menolak tawaran awal dari pihak manajemen terkait restrukturisasi yang berpotensi merugikan buruh, dan kini menanti langkah tegas dari para pemangku kebijakan.
Harapan kini tertuju pada pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan solusi jangka pendek guna menjaga keberlangsungan industri manufaktur. Pemerintah diharapkan dapat meninjau kembali kebijakan tata kelola gas bumi agar lebih berpihak pada industri domestik, sehingga daya saing manufaktur tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global yang menekan biaya produksi secara berkelanjutan.























