Jakarta – Emiten di bawah naungan Grup Merdeka mencatatkan perbaikan kinerja keuangan yang signifikan pada kuartal pertama tahun 2026. Momentum ini dipicu oleh operasional proyek strategis serta tren penguatan harga komoditas global.
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memimpin pertumbuhan dengan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 620,3 juta.
Angka tersebut melonjak 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu secara tahunan atau year on year (yoy).
Pencapaian laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar US$ 57,5 juta.
Realisasi ini menjadi pembalikan tajam dibandingkan kuartal pertama tahun 2025 yang sempat mencatatkan rugi bersih senilai US$ 3,7 juta.
Emas menjadi tulang punggung EBITDA MDKA dengan kontribusi sebesar US$ 89 juta. Sektor lainnya seperti Nickel Pig Iron (NPI), limonit, High-Grade Nickel Matte (HGNM), dan tembaga turut memberikan sokongan pendapatan perusahaan.
Presiden Direktur Merdeka Copper Gold, Albert Saputro, menyebut keberhasilan ini merupakan buah dari diversifikasi portofolio yang matang. “Kinerja ini menunjukkan ketahanan portofolio perusahaan yang terdiversifikasi dan mencerminkan fokus kami yang berkelanjutan pada eksekusi yang disiplin, optimalisasi biaya, serta pengembangan platform pertumbuhan utama di sektor emas, nikel, dan tembaga,” ujar dia dalam keterangan resmi, Senin (29/6).
Anak usaha MDKA, yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), turut mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 24 persen yoy menjadi US$ 455,1 juta. Efisiensi operasional dan peningkatan volume bijih nikel berhasil membawa MBMA mencetak laba bersih sebesar US$ 29,9 juta.
Di sisi lain, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) masih mencatat rugi bersih senilai US$ 10,9 juta. Hal ini dianggap wajar karena perusahaan berada dalam fase transisi dari pengembangan menuju produksi komersial di Tambang Emas Pani.
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai bahwa kenaikan harga emas historis menjadi katalisator utama bagi Grup Merdeka. “Ke depannya, Pani justru bisa menjadi katalis utama apabila ramp-up produksi berjalan sesuai target,” kata dia, Rabu (1/7/2026).
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyoroti tantangan yang dihadapi pada semester kedua tahun 2026. Ia menyebut fluktuasi harga nikel akibat kelebihan pasokan global menjadi faktor risiko utama. “Sentimen positif emiten-emiten ini antara lain progres ramp-up kapasitas Pani dan potensi harga emas yang masih tinggi, sedangkan sentimen negatifnya adalah oversupply nikel dan EMAS yang masih butuh waktu untuk mencapai breakeven,” ungkap dia, Rabu (1/7/2026).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menekankan pentingnya manajemen utang bagi emiten-emiten Grup Merdeka. Mengingat fase ekspansi yang intensif, tingkat suku bunga acuan yang tinggi menuntut perusahaan untuk melakukan strategi deleveraging secara disiplin.
Nafan menyarankan agar perusahaan menjaga efisiensi biaya di seluruh lini operasional. “Proyek strategis Grup Merdeka mesti selesai tepat waktu agar segera berkontribusi terhadap pendapatan,” tutur dia.
Secara teknikal, saham MDKA dan MBMA dinilai masih memiliki daya tarik bagi investor dengan target harga yang bervariasi sesuai dengan analisis pasar menengah hingga panjang. Sementara itu, saham EMAS disarankan untuk masuk dalam daftar pantauan investor dengan pendekatan spekulatif.





















