Rupiah Menguat Tipis ke Level Rp18.091 Per Dolar AS

persen

Jakarta – Nilai tukar mata uang Rupiah berhasil mencatatkan penguatan sebesar 0,10 persen pada penutupan perdagangan Selasa (14/7/2026).

Posisi mata uang Garuda kini berada di level Rp 18.091 per dolar Amerika Serikat (AS).

Angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang bertengger di level Rp 18.109 per dolar AS.

Tren positif ini turut dipengaruhi oleh pelemahan indeks dolar AS secara global.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan mata uang Paman Sam terhadap mata uang utama dunia tercatat berada di level 101,15.

Perolehan ini mengalami penurunan dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level 101,23.

Situasi pasar regional Asia menunjukkan dinamika yang beragam dalam perdagangan hari ini.

Rupiah berada dalam kelompok mata uang yang berhasil menguat di tengah gempuran dolar AS.

Won Korea memimpin penguatan di kawasan Asia dengan kenaikan sebesar 0,23 persen.

Dolar Singapura menyusul di urutan selanjutnya dengan apresiasi sebesar 0,12 persen.

Rupiah menduduki posisi ketiga dengan penguatan 0,10 persen.

Yen Jepang dan dolar Taiwan masing-masing mencatatkan penguatan sebesar 0,04 persen.

Yuan China turut mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,02 persen terhadap mata uang AS.

Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia tidak mampu menahan tekanan dolar dan berakhir melemah.

Rupee India mencatatkan pelemahan paling dalam di kawasan sebesar 0,56 persen.

Peso Filipina menyusul dengan koreksi sebesar 0,21 persen.

Ringgit Malaysia tercatat melemah sebesar 0,16 persen pada penutupan pasar sore ini.

Baht Thailand ikut tertekan dengan pelemahan sebesar 0,09 persen.

Dolar Hong Kong menutup perdagangan dengan pelemahan tipis sebesar 0,01 persen.

Penguatan Rupiah ini sejalan dengan sentimen positif yang juga dirasakan di pasar saham domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan mengalami kenaikan sebesar 0,61 persen ke level 6.074,6 pada sesi pertama perdagangan.

Beberapa emiten yang masuk dalam jajaran top gainers di indeks LQ45 antara lain WIFI, DEWA, dan MEDC.

Analis pasar keuangan mencermati bahwa pergerakan nilai tukar saat ini sangat bergantung pada kebijakan moneter global.

Penurunan indeks dolar menjadi pemicu utama bagi mata uang negara berkembang untuk melakukan konsolidasi.

Stabilitas Rupiah di level Rp 18.000 menjadi perhatian khusus bagi pelaku pasar.

Para investor saat ini tengah menanti data ekonomi lanjutan dari AS yang akan dirilis pekan ini.

Dinamika ini menjadi cerminan dari kondisi ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan Asia.

Para pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap volatilitas yang mungkin terjadi pada perdagangan hari Rabu esok.

Data ini merujuk pada laporan resmi pasar keuangan yang dirilis pada Selasa (14/7/2026).

Rekomendasi

Tinggalkan komentar