Bitcoin dan Ethereum Masih Tertekan, Simak Proyeksi Harganya Akhir 2026

Rayhan Akhari

Bitcoin dan Ethereum Masih Tertekan, Simak Proyeksi Harganya Akhir 2026

Jakarta – Pasar aset kripto global saat ini tengah menghadapi tekanan signifikan yang memicu tren koreksi pada sejumlah mata uang digital utama sepanjang pekan terakhir.

Data CoinMarketCap pada Jumat (11/9/2026) pukul 14.53 WIB menunjukkan bahwa Bitcoin (BTC) terperosok ke level US$77.193,50, mencatatkan penurunan sebesar 4,36 persen.

Kondisi serupa dialami oleh Ethereum (ETH) yang melemah 1,59 persen ke posisi US$2.465,56, sementara Solana (SOL) terdepresiasi 3,83 persen menjadi US$99,74.

Analis Reku, Andri Fauzan, menyatakan bahwa fluktuasi harga ini dipicu oleh sentimen makroekonomi yang mendominasi pasar global.

“Tekanan terhadap pasar kripto dalam sepekan terakhir terutama dipengaruhi oleh sentimen makroekonomi,” ujarnya dikutip dari laporan resmi, Jumat (11/9/2026).

Salah satu pemicu utama adalah ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, pada pertemuan 16 September mendatang.

Probabilitas kenaikan suku bunga tersebut kini telah menembus kisaran 60 persen hingga 70 persen.

Selain kebijakan moneter, pasar juga tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Lonjakan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran inflasi kembali menjadi beban bagi aset berisiko.

Faktor pendukung pelemahan lainnya meliputi arus keluar dana dari ETF Bitcoin, aksi ambil untung oleh investor, serta gelombang likuidasi posisi long di pasar futures.

Meskipun demikian, Andri menegaskan bahwa tren negatif ini tidak serta-merta menjadi sinyal bahwa pasar akan terus terpuruk hingga akhir tahun.

“Prospek beberapa mata uang kripto utama hingga akhir tahun masih memiliki peluang untuk pulih dan tidak otomatis melanjutkan tren pelemahan,” ungkapnya.

Sejumlah faktor struktural dinilai masih mampu menopang ketahanan pasar kripto dalam jangka panjang.

Faktor-faktor tersebut mencakup aksi pembelian kembali (buyback) Treasury, ketidakpastian kondisi fiskal Amerika Serikat, serta prospek regulasi yang lebih transparan.

Pemulihan harga Bitcoin dan Ethereum diyakini akan semakin terbuka jika The Fed mengambil kebijakan yang lebih moderat.

Masuknya kembali arus dana institusional ke dalam ETF kripto juga diprediksi menjadi katalis positif bagi pergerakan harga.

Di tengah kondisi pasar yang volatil, Bitcoin tetap dipandang sebagai aset yang memiliki ketahanan tinggi karena fungsinya sebagai penyimpan nilai.

Ethereum dinilai memiliki potensi kinerja yang kompetitif saat terjadi rotasi modal menuju aset yang lebih berisiko.

Untuk menghadapi ketidakpastian pasar, investor disarankan untuk tidak mengambil keputusan investasi yang terlalu agresif.

“Strategi investor di tengah volatilitas saat ini adalah tetap disiplin: akumulasi bertahap di level support jika terjadi koreksi lebih lanjut, jangan all-in di kondisi ragu, lakukan partial profit-taking pada saat rebound, dan selalu sisakan cash,” tegasnya.

Proyeksi hingga akhir 2026 menempatkan Bitcoin pada skenario dasar di kisaran US$90.000 hingga US$110.000 per koin.

Dalam skenario yang lebih optimistis, harga Bitcoin bahkan berpotensi menembus level US$115.000 per unit.

Sementara itu, Ethereum diproyeksikan akan bergerak di rentang harga US$3.000 hingga US$3.800 per koin hingga pengujung tahun.

Pergerakan altcoin berkapitalisasi besar lainnya diperkirakan akan tetap berkorelasi dengan Bitcoin, namun dengan tingkat volatilitas yang jauh lebih tinggi.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar