Jakarta – Pasar keuangan global mencatatkan kinerja positif yang cukup signifikan sepanjang periode Agustus 2026.
Sejumlah instrumen investasi utama, mulai dari aset kripto, emas, hingga obligasi, berhasil menunjukkan tren penguatan di tengah dinamika perubahan ekspektasi suku bunga dunia.
Pasar kripto tampil sebagai aset dengan performa paling agresif selama bulan kedelapan tahun ini.
Data CoinMarketCap per 1 September 2026 menunjukkan harga Bitcoin melonjak hingga 23,35% dalam sebulan ke level US$ 77.940.
Ethereum juga mengikuti tren serupa dengan kenaikan sebesar 23,33% ke posisi US$ 2.452.
Meskipun terjadi penguatan bulanan yang tajam, posisi kedua aset digital tersebut secara year-to-date (YtD) masih berada di zona merah dengan koreksi masing-masing sekitar 10,9%.
Analis Reku, Andri Fauzan, menilai bahwa pemulihan harga aset kripto kali ini didorong oleh perpaduan faktor makroekonomi dan regulasi.
“Pengumuman Treasury AS yang memperbesar buyback obligasi jangka panjang menjadi pemicu awal, diinterpretasikan sebagai sinyal likuiditas dan memperkuat debasement trade di tengah utang AS yang sudah di atas US$ 40 triliun,” ujar Andri, Selasa (1/9/2026).
Selain itu, peningkatan arus dana ke exchange-traded fund (ETF) spot serta aksi short squeeze turut mempercepat laju kenaikan harga.
Andri melihat kenaikan ini sebagai awal pemulihan yang kredibel, meski belum sepenuhnya bisa dikategorikan sebagai bull market jangka panjang.
Proyeksi hingga akhir 2026, Bitcoin diperkirakan bergerak di kisaran US$ 90.000 hingga US$ 110.000, sementara Ethereum diprediksi berada di rentang US$ 3.000 hingga US$ 3.800.
Di sektor komoditas, emas kembali menegaskan posisinya sebagai aset safe haven dengan kenaikan harga sebesar 7,74% sepanjang Agustus 2026.
Harga emas per 1 September 2026 tercatat berada di level US$ 4.367,55 per ons troi.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menyatakan bahwa reli emas ini dipicu oleh permintaan safe haven, pelemahan dolar AS, serta aksi pembelian masif oleh bank sentral global.
Namun, Brahmantya tetap memberikan catatan kewaspadaan terkait potensi koreksi jangka pendek.
“Untuk jangka pendek saya justru melihat emas masih berpotensi mengalami koreksi terlebih dahulu,” kata Brahmantya.
Risiko kebijakan hawkish dari The Fed serta eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran dianggap sebagai variabel yang dapat menekan harga emas kembali ke level support di US$ 3.900.
Sementara itu, pasar obligasi juga menunjukkan stabilitas yang lebih baik dengan penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun ke level 6,99%.
Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management, Domingus Sinarta Ginting, menjelaskan bahwa penguatan obligasi didukung oleh meredanya tekanan dolar AS.
“Dari sisi global, ekspektasi suku bunga The Fed yang tidak semakin hawkish juga membantu menurunkan tekanan terhadap yield,” ujar Domingus.
Prospek pasar obligasi hingga akhir tahun dinilai tetap konstruktif, meski investor tetap harus memantau kebijakan fiskal dan pergerakan rupiah.
Secara keseluruhan, Agustus 2026 menjadi momentum pemulihan bagi para investor setelah menghadapi volatilitas yang cukup tinggi pada periode sebelumnya.
Namun, tantangan berupa ketidakpastian kebijakan moneter global dan risiko geopolitik diprediksi akan terus membayangi pergerakan harga aset hingga akhir tahun 2026.



















