Dolar AS Tertekan, Euro dan Yen Berjaya Pasca Keputusan The Fed

persen

JAKARTA – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) merosot tajam terhadap euro dan yen Jepang pada Rabu (17/9), menyusul keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25 poin persentase. Langkah bank sentral ini sekaligus memberikan sinyal kuat adanya pemangkasan tambahan hingga akhir tahun, memicu respons pasar yang masif.

Data perdagangan menunjukkan bahwa euro menguat 0,2% terhadap dolar, mencapai level $1,1894. Sementara itu, dolar AS kian tertekan di hadapan yen Jepang, melemah 0,5% hingga menyentuh posisi 145,78 yen per dolar.

Pelemahan dolar ini mencerminkan reaksi pasar terhadap prioritas The Fed yang kini lebih menekankan pada stabilitas pasar tenaga kerja di tengah tanda-tanda perlambatan ekonomi. Para investor menilai pemangkasan suku bunga akan mengurangi imbal hasil aset berbasis dolar, sehingga mendorong tren pelemahan mata uang tersebut.

Dalam pernyataan resminya, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyebut bahwa risiko terhadap mandat ganda mereka, yakni stabilitas inflasi dan lapangan kerja, telah berubah. Tekanan utama kini beralih pada perlambatan pasar tenaga kerja.

“Pertumbuhan lapangan kerja telah melambat, dan tingkat pengangguran meningkat,” demikian pernyataan The Fed, menyoroti kekhawatiran yang mendasari keputusan pemangkasan suku bunga.

Meskipun demikian, Stephen Miran, gubernur baru yang sebelumnya bertugas di Gedung Putih, menyatakan penolakannya terhadap keputusan tersebut. Ia justru mendorong pemangkasan suku bunga yang lebih agresif, yakni sebesar 0,5 poin persentase.

Proyeksi The Fed mengindikasikan bahwa akan ada dua kali pemotongan suku bunga tambahan, masing-masing 0,25 poin, dalam dua rapat kebijakan terakhir tahun ini. Pasar menafsirkan sinyal ini sebagai pergeseran fokus bank sentral dari risiko inflasi akibat perang dagang pemerintahan Trump, menuju kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi yang melemah dan potensi lonjakan pengangguran.

Proyeksi terbaru bank sentral masih memperkirakan inflasi di akhir 2025 berada pada level 3%, jauh di atas target 2%. Namun, pertumbuhan ekonomi diperkirakan sedikit meningkat menjadi 1,6% dari proyeksi sebelumnya 1,4%, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil pada 4,5%.

Dibandingkan dengan proyeksi Juni lalu, ancaman stagflasi kini dinilai berkurang. Para pejabat The Fed tampaknya semakin yakin bahwa pemotongan suku bunga yang lebih cepat dapat menahan lonjakan pengangguran, sembari inflasi diperkirakan melandai secara bertahap pada tahun depan.

Rekomendasi