Jakarta – PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) tengah menggenjot diversifikasi portofolio bisnisnya dengan merambah sektor hiburan, makanan dan minuman (F&B), serta gaya hidup.
Langkah strategis ini dilakukan untuk menciptakan sumber pertumbuhan pendapatan baru di luar bisnis inti perusahaan di sektor perhotelan.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, memandang langkah ekspansi tersebut sebagai upaya positif untuk menangkap potensi belanja wisatawan secara lebih luas.
“Namun kontribusinya ke laba belum akan terlalu besar dalam waktu dekat karena bisnis seperti Zumana masih dalam tahap awal operasional,” ujar Elandry, Selasa (29/9/2026).
Meskipun kontribusi laba belum signifikan, model bisnis terintegrasi yang diusung perseroan dinilai memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan.
Integrasi antara fasilitas hotel, restoran, hiburan, dan gaya hidup memungkinkan perusahaan meningkatkan pendapatan dari setiap pengunjung yang datang.
Strategi ini diharapkan mampu memperkuat pendapatan berulang atau recurring income bagi perusahaan di masa depan.
Elandry menjelaskan bahwa diversifikasi ini berfungsi sebagai pelengkap yang memperkuat ekosistem destinasi wisata milik perusahaan.
“Peluangnya cukup menarik karena model bisnis tersebut dapat meningkatkan revenue per wisatawan melalui kombinasi hotel, restoran, entertainment dan lifestyle,” jelasnya.
Jika eksekusi di lapangan berjalan optimal, diversifikasi ini akan meningkatkan kualitas pendapatan perusahaan dalam jangka menengah hingga panjang.
Terdapat sejumlah faktor kunci yang menjadi katalis pertumbuhan perusahaan ke depan, di antaranya pemulihan sektor pariwisata di Bali serta peningkatan tingkat okupansi hotel.
Selain itu, kenaikan Average Daily Rate (ADR) hotel dan perkembangan operasional unit bisnis baru seperti Zumana menjadi perhatian utama investor.
Penggunaan dana hasil rights issue untuk pengembangan aset juga dinilai sebagai langkah krusial dalam mempercepat target ekspansi perseroan.
Namun, Elandry mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai oleh para pemangku kepentingan.
“Risikonya antara lain execution risk, kebutuhan capex yang besar, persaingan bisnis lifestyle dan entertainment di Bali, serta potensi volatility saham selama proses rights issue berlangsung,” kata Elandry.
Secara teknikal, pergerakan harga saham BUVA saat ini masih berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami koreksi yang cukup dalam.
Sentimen jangka pendek diprediksi masih akan didominasi oleh proses rights issue serta kemampuan pasar dalam menyerap pasokan saham baru yang akan diterbitkan.
Melihat kondisi fundamental dan potensi pertumbuhan tersebut, target harga BUVA ditetapkan pada level Rp750 per saham untuk horizon investasi jangka menengah.
Investor tetap disarankan untuk memantau ketat perkembangan fundamental dan efektivitas eksekusi rencana ekspansi perseroan guna memitigasi risiko investasi.
“Dengan catatan investor tetap mencermati perkembangan fundamental dan eksekusi ekspansi perseroan,” pungkasnya.






















