IHSG Terkoreksi ke 6.135, Saham GOTO, AADI, dan ADRO Memerah

persen

IHSG Terkoreksi ke 6.135, Saham GOTO, AADI, dan ADRO Memerah

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan kinerja negatif pada perdagangan hari ini, Selasa (29/9/2026).

Indeks utama bursa domestik ini terperosok ke zona merah dengan koreksi sebesar 0,21% atau 12,861 poin.

Posisi indeks saat ini berada di level 6.134,998 pada sesi pertama perdagangan.

Tren pelemahan ini menandai tekanan jual yang konsisten selama empat hari berturut-turut.

Data RTI menunjukkan bahwa dominasi sentimen negatif terlihat dari jumlah saham yang terkoreksi.

Tercatat sebanyak 426 saham mengalami penurunan harga di pasar.

Sementara itu, hanya 242 saham yang mampu menguat, sedangkan 120 saham lainnya bertahan di posisi stagnan.

Aktivitas perdagangan mencatatkan volume sebesar 24,26 miliar saham.

Nilai transaksi yang dihasilkan dari perputaran saham tersebut mencapai angka Rp 8,1 triliun.

Sektor teknologi menjadi penekan utama dengan pelemahan terdalam sebesar 2,94% pada indeks IDX-Techno.

Sektor barang konsumen non-primer atau IDX-Cyclic turut melemah sebesar 1,32%.

Selain itu, sektor properti melalui indeks IDX-Property mengalami koreksi sebesar 1,02%.

Kinerja saham LQ45 juga mencerminkan tekanan pasar yang signifikan.

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi pemberat utama dengan penurunan harga mencapai 13,95%.

Saham emiten teknologi tersebut kini bertengger di level Rp 37 per lembar.

Koreksi juga melanda PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebesar 3,23% ke posisi Rp 11.250.

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) pun ikut tertekan dengan penurunan sebesar 3% menjadi Rp 2.510.

Di tengah tekanan tersebut, PT Indosat Tbk (ISAT) mampu mencatatkan penguatan sebesar 4,91% ke level Rp 2.350.

PT XL SMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) juga menguat 3,03% ke level Rp 2.380.

PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) mencatatkan kenaikan 2,63% menjadi Rp 585 per saham.

Kondisi pasar domestik ini sejalan dengan sentimen negatif yang menyelimuti bursa Asia secara umum.

Investor global saat ini merespons kenaikan harga minyak dunia serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS atau US Treasury menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Reuters melaporkan bahwa yield US Treasury tenor 10 tahun kini telah menembus level 5,27%.

Angka tersebut merupakan titik tertinggi yang pernah dicapai dalam kurun waktu 19 tahun terakhir.

Sepanjang bulan September, yield tersebut melonjak hampir 50 basis poin akibat aksi jual masif di pasar obligasi AS.

Yield tenor dua tahun juga menunjukkan tren serupa dengan kenaikan lebih dari 57 basis poin sepanjang bulan ini.

Posisi yield dua tahun tersebut kini mendekati level 5% karena sensitivitasnya terhadap kebijakan moneter.

Pasar bereaksi negatif karena kenaikan yield obligasi dianggap sebagai ancaman bagi aset berisiko.

Tingginya suku bunga berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan bagi sektor korporasi maupun rumah tangga.

Selain itu, beban anggaran pemerintah diprediksi akan semakin berat di tengah situasi ini.

Pelaku pasar kini mengantisipasi langkah Federal Reserve (The Fed) terkait kebijakan suku bunga.

Terdapat spekulasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga hingga tiga kali sampai pertengahan 2027.

Dari sisi domestik, investor juga tengah beradaptasi dengan kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI).

Aturan baru tersebut menurunkan batas harga minimum saham menjadi Rp 1 per lembar.

Sajian Pagi Menu Trading (SAPA MENTARI) BRI Danareksa Sekuritas menyatakan bahwa perubahan tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.

Volatilitas diperkirakan akan lebih terasa pada saham-saham dengan harga rendah.

Hal ini berkaitan erat dengan penyesuaian rentang harga dan mekanisme auto rejection yang baru diterapkan.

Sentimen ini menambah beban pasar di tengah ketidakpastian geopolitik yang memicu fluktuasi harga energi global.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar