IHSG Dibuka Melemah 1,12% ke 6.079, Simak Sentimen Beban Bursa

Kholida Rahman

IHSG Dibuka Melemah 1,12% ke 6.079, Simak Sentimen Beban Bursa

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan performa negatif pada perdagangan Selasa (29/9/2026), memperpanjang tren koreksi menjadi empat hari berturut-turut.

Data RTI menunjukkan IHSG terkoreksi 1,12% atau 68,770 poin ke level 6.079,089 pada pukul 09.05 WIB.

Sebanyak 439 saham terpantau berada di zona merah, sementara hanya 132 saham yang mampu menguat dan 143 saham lainnya tetap stagnan.

Volume perdagangan tercatat mencapai 4,2 miliar saham dengan nilai transaksi keseluruhan menyentuh Rp 1,3 triliun.

Kondisi pasar yang lesu ini dipicu oleh sentimen eksternal, yakni kenaikan yield US Treasury, penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat, serta ketegangan geopolitik yang memicu lonjakan harga energi.

Seluruh 11 sektor yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan jual, dengan sektor teknologi menjadi yang paling terpukul setelah anjlok 4,05%.

Sektor transportasi menyusul dengan penurunan 2,13%, diikuti oleh sektor energi yang melemah sebesar 1,95%.

Di jajaran saham berkapitalisasi besar atau LQ45, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memimpin penurunan dengan koreksi tajam sebesar 13,95% ke level Rp 37 per lembar saham.

Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga turut tertekan dengan penurunan masing-masing sebesar 4,73% dan 3,47%.

Di tengah badai pelemahan tersebut, beberapa saham LQ45 masih mampu mencatatkan penguatan tipis, seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang naik 0,75%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 0,64%, dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) tumbuh 0,63%.

Sentimen global menjadi penekan utama, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters bahwa investor di seluruh Asia bereaksi negatif terhadap kenaikan harga minyak dan yield obligasi pemerintah yang memicu kekhawatiran akan suku bunga tinggi dalam jangka waktu panjang.

Yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat melonjak hingga 5,27%, sebuah level tertinggi dalam 19 tahun terakhir.

Kenaikan ini menjadi perhatian serius pasar saham karena yield obligasi AS sering dijadikan acuan bagi imbal hasil aset berisiko global.

Selain tekanan eksternal, pasar dalam negeri juga sedang mencermati fase adaptasi terhadap kebijakan baru BEI, yakni penurunan batas harga minimum saham menjadi Rp 1.

Sajian Pagi Menu Trading (SAPA MENTARI) BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa perubahan tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar, terutama pada saham-saham berharga rendah.

Volatilitas ini terjadi seiring dengan penyesuaian rentang harga dan mekanisme auto rejection yang diberlakukan oleh otoritas bursa.

Kombinasi antara tekanan makro global dan penyesuaian regulasi domestik ini menciptakan sentimen negatif yang menekan gerak IHSG sejak awal pekan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar