Jakarta – Investor pasar modal di Indonesia kini tengah mencermati momentum pembagian dividen dari sejumlah emiten yang dijadwalkan berlangsung antara akhir September hingga Oktober 2026.
Langkah strategis ini menuntut kehati-hatian karena besarnya dividend yield tidak menjamin keuntungan bersih bagi pemegang saham.
Harga saham secara teoritis akan mengalami penyesuaian turun sebesar nilai dividen yang dibagikan tepat pada periode ex-dividend.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengingatkan bahwa potensi dividend trap menjadi ancaman nyata bagi investor yang hanya berorientasi pada imbal hasil dividen.
“Risiko dividend trap muncul ketika investor membeli saham hanya karena yield terlihat tinggi, tetapi setelah ex-date harga mengalami koreksi lebih dalam daripada nilai dividen sehingga capital loss menggerus bahkan melebihi pendapatan dividen,” ujar Nafan, Kamis (24/9/2026).
Menurut Nafan, investor harus melakukan analisis mendalam terhadap fundamental perusahaan, termasuk arus kas, rasio pembayaran (payout ratio), serta rekam jejak pembagian dividen emiten terkait.
Beberapa emiten yang masuk dalam radar pembagian dividen saat ini antara lain PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI), PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA), PT Victoria Investama Tbk (VICO), PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII), PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR), dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA).
Analisis mengenai prospek emiten-emiten tersebut menunjukkan variasi kinerja yang signifikan.
BSSR, misalnya, dinilai memiliki kinerja solid dengan pertumbuhan laba bersih yang cukup impresif pada semester I 2026, meski tetap dibayangi volatilitas harga komoditas batubara.
Sementara itu, KKGI dipandang sebagai kombinasi antara dividend play dan paparan terhadap siklus komoditas.
Di sisi lain, HEXA yang bergerak di sektor alat berat sangat sensitif terhadap belanja modal pertambangan, sementara VICO menghadapi tantangan berupa penurunan laba bersih dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk IFII, daya tarik utamanya terletak pada potensi pemulihan margin bisnis, sedangkan CDIA dinilai kurang atraktif sebagai sarana mengejar dividen karena yield yang ditawarkan relatif sangat kecil, yakni sekitar 0,2%.
Senada dengan hal tersebut, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menyarankan investor untuk tidak sekadar mengejar dividen jangka pendek.
“Dividend capture dapat dilakukan dengan membeli sebelum cum date dan menjual setelah ex-date, tetapi risikonya adalah koreksi harga melebihi nilai dividen,” jelas Sukarno, Kamis (24/9/2026).
Strategi yang lebih disarankan adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada emiten dengan fundamental kuat dan posisi kas yang sehat.
BSSR, KKGI, dan HEXA disebut sebagai tiga emiten yang paling layak dicermati, namun investor tetap harus disiplin terhadap level support dan batas risiko.
Jadwal pembagian dividen mencatat bahwa BSSR akan melakukan cum date pada 29 September 2026, menyusul VICO dan IFII yang dijadwalkan pada 28 September 2026.
Sebelumnya, HEXA telah menetapkan cum date pada 25 September 2026.
Secara keseluruhan, dividen sebaiknya diposisikan sebagai bagian dari total return dan bukan alasan tunggal dalam pengambilan keputusan investasi saham.


















