Washington – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali meletus pada Sabtu (2/6), memicu eskalasi ketegangan di kawasan Teluk yang mengancam stabilitas global dan keberlangsungan gencatan senjata yang rapuh. Aksi saling serang ini terjadi setelah militer AS melancarkan operasi terhadap sejumlah fasilitas strategis milik Iran di pesisir, yang dibalas oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dengan serangan balik terhadap posisi militer AS di wilayah tersebut.
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa serangan mereka, yang dilakukan pada Jumat (26/6), menyasar instalasi radar, fasilitas penyimpanan rudal, serta drone milik Iran. Operasi militer ini merupakan respons langsung terhadap serangan drone Iran sehari sebelumnya yang menargetkan kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, saat melintasi koridor pelayaran sementara yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump mengecam keras tindakan tersebut, menyebut serangan terhadap kapal komersial sebagai pelanggaran nyata terhadap perjanjian gencatan senjata. Menurut laporan, satu drone Iran berhasil mengenai bagian atas kapal, sementara tiga lainnya berhasil dicegat. Meski Washington masih terlibat dalam negosiasi diplomatik dengan Teheran, pihak AS menegaskan bahwa tindakan militer tetap diperlukan untuk menjaga kebebasan navigasi maritim di jalur perdagangan minyak dunia yang vital tersebut.
Di sisi lain, IRGC menyatakan bahwa aksi balasan mereka merupakan respons cepat dan tegas atas tindakan Washington. Meski tidak merinci lokasi spesifik sasaran militer AS, media pemerintah Iran melaporkan adanya proyektil yang menghantam area sekitar dermaga di Sirik, Iran Selatan, pasca-serangan AS. Ketegangan ini semakin diperkeruh dengan pernyataan pejabat Iran yang menegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz. Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyatakan bahwa langkah Teheran merupakan bentuk pengelolaan gencatan senjata, bukan pelanggaran.
Situasi keamanan yang memburuk berdampak langsung pada distribusi energi dan logistik global. Organisasi Maritim Internasional (IMO) telah memutuskan untuk menghentikan sementara operasi evakuasi ratusan kapal yang terjebak di kawasan tersebut. Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menyatakan bahwa sekitar 500 kapal masih tertahan, sementara evakuasi hanya akan dilanjutkan setelah ada jaminan keamanan yang memadai dari pihak-pihak yang bertikai.
Sebelum insiden ini, Washington dan Teheran sedang mengupayakan kesepakatan permanen berdasarkan perjanjian sementara selama 60 hari. Perundingan tersebut mencakup isu keamanan maritim dan sengketa cadangan uranium pengayaan tinggi milik Iran. Namun, eskalasi militer terbaru ini menimbulkan keraguan besar di tingkat internasional mengenai kemampuan kedua negara untuk menahan diri hingga kesepakatan jangka panjang dapat tercapai. Ketidakpastian ini terus membayangi jalur perdagangan yang menyuplai sekitar seperlima kebutuhan minyak dunia.
























