Jakarta – Fitch Ratings resmi meningkatkan penilaian profil kredit mandiri atau Standalone Credit Profile (SCP) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dari level ‘a-‘ menjadi ‘a’. Peningkatan peringkat ini didorong oleh proyeksi kemampuan perusahaan dalam membiayai ekspansi jaringan 5G tanpa harus menanggung beban utang yang berlebihan.
Lembaga pemeringkat tersebut, dalam rilis yang diterbitkan pada Jumat (2/10/2026), menegaskan bahwa posisi Telkom sebagai pemimpin pasar telekomunikasi di Indonesia tetap kokoh. Perusahaan dinilai memiliki tingkat leverage yang sangat rendah, dengan estimasi EBITDA net leverage berada di kisaran 0,4 kali untuk periode 2026 hingga 2029.
Kondisi keuangan yang solid ini memberikan keleluasaan bagi Telkom untuk melakukan belanja modal besar, khususnya untuk modernisasi jaringan pada rentang tahun 2027 hingga 2028. Fitch memproyeksikan belanja modal perusahaan akan mencapai 19% dari pendapatan pada 2026, dan meningkat hingga 23% pada 2027.
Meskipun profil kredit mandiri mengalami penguatan, Fitch tetap mempertahankan Long-Term Foreign- and Local-Currency Issuer Default Ratings (IDR) Telkom di level ‘BBB’ dengan outlook negatif. Keputusan ini diambil karena peringkat perusahaan masih terikat dengan peringkat utang pemerintah Indonesia yang berada di level serupa dengan prospek yang sama.
Pemerintah Indonesia saat ini masih menguasai sekitar 52% saham Telkom dan memegang kendali melalui saham Seri A Dwiwarna. Hak veto pemerintah atas keputusan strategis, termasuk perubahan anggaran dasar dan pengangkatan jajaran direksi, menjadi faktor utama yang membatasi peringkat perusahaan di mata lembaga pemeringkat internasional.
Di sisi operasional, Telkom mencatatkan pangsa pasar yang dominan, yakni 48% di sektor seluler dan 67% di layanan fixed broadband. Segmen business-to-consumer (B2C) terus menjadi penyumbang utama pendapatan, dengan kontribusi mencapai 72% pada tahun 2025 lalu.
Terkait isu tata kelola, Fitch mencatat adanya investigasi yang melibatkan US Securities and Exchange Commission (SEC) mengenai pelaporan historis perusahaan. Meski terdapat temuan “Some Deficiencies” dalam aspek transparansi, lembaga tersebut menilai masalah ini belum berdampak signifikan terhadap profil kredit mandiri Telkom.
Pihak manajemen Telkom sendiri telah menempuh langkah-langkah perbaikan bersama otoritas terkait. Fitch menambahkan bahwa individu yang bertanggung jawab atas kelemahan tata kelola tersebut sudah tidak lagi menjabat di perusahaan.
Dari sisi likuiditas, Telkom dinilai sangat mumpuni dengan ketersediaan kas dan setara kas mencapai Rp 54,5 triliun per Juni 2026. Jumlah tersebut dinilai lebih dari cukup untuk menutupi utang jatuh tempo sebesar Rp 30 triliun dalam setahun ke depan.
Fitch juga menyoroti efisiensi biaya spektrum yang diperoleh Telkom pada lelang terbaru di pita 700 MHz dan 2,6 GHz. Mekanisme pembayaran yang lebih ringan ini semakin memperkuat posisi Telkom dalam mempertahankan keunggulan infrastruktur dibandingkan kompetitor di industri telekomunikasi nasional.























