Gudang Garam Belum Petik Keuntungan dari Operasional Bandara Dhoho

persen

Gudang Garam Belum Petik Keuntungan dari Operasional Bandara Dhoho

Jakarta – PT Gudang Garam Tbk (GGRM) menegaskan bahwa operasional Bandara Dhoho di Kediri, Jawa Timur, belum memberikan dampak finansial yang signifikan terhadap neraca keuangan perusahaan hingga saat ini.

Proyek infrastruktur berskala besar tersebut masih berada dalam fase pengembangan awal yang membutuhkan komitmen pendanaan berkelanjutan.

Manajemen perusahaan mengklasifikasikan pembangunan bandara ini sebagai investasi jangka panjang yang strategis.

Direktur Gudang Garam, Istata Taswin Siddharta, mengungkapkan bahwa kontribusi positif dari aset tersebut diprediksi belum akan muncul dalam waktu dekat.

“Bandara ini merupakan proyek jangka panjang. Sampai saat ini belum memberikan kontribusi positif buat perusahaan. Dan itu akan kami perkirakan tetap seperti itu buat beberapa tahun ke depan,” ujar Istata dalam agenda paparan publik, Kamis (10/9/2026).

Pihak manajemen Gudang Garam tidak merinci secara detail faktor teknis maupun operasional yang mendasari belum optimalnya kinerja keuangan dari proyek bandara tersebut.

Transparansi mengenai proyeksi keuntungan jangka pendek memang belum menjadi prioritas utama mengingat skala investasi yang masif.

Di sisi lain, perusahaan juga memastikan belum ada rencana ekspansi atau penambahan investasi baru di luar sektor infrastruktur yang saat ini sedang berjalan.

Fokus korporasi saat ini tetap terkonsentrasi pada penyelesaian proyek bandara dan penyelesaian proyek jalan tol yang berada di bawah naungan perusahaan.

Komitmen perusahaan terhadap proyek ini terlihat nyata melalui injeksi modal tambahan yang baru saja dilakukan.

Gudang Garam tercatat telah menyuntikkan dana sebesar Rp 200 miliar untuk kebutuhan operasional Bandara Dhoho.

Dana tersebut disalurkan melalui entitas anak usaha, yaitu PT Surya Dhoho Investama (SDHI).

Sebelum transaksi modal tersebut dilakukan, Gudang Garam memegang kendali mayoritas sebesar 99,9% atau setara dengan 14,29 juta saham di dalam SDHI.

Penambahan modal ini berdampak langsung pada struktur permodalan anak usaha tersebut.

Modal ditempatkan dan disetor pada SDHI kini meningkat menjadi Rp 14,5 triliun, dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp 14,3 triliun.

Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan masih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan operasional dan pengembangan infrastruktur di Kediri.

Meskipun beban investasi cukup besar, perusahaan tetap menjaga stabilitas operasional di tengah dinamika industri yang menantang.

Ketergantungan terhadap infrastruktur bandara diproyeksikan akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi regional di masa depan.

Namun, untuk saat ini, pemegang saham harus bersabar menunggu hingga proyek tersebut mencapai skala keekonomian yang matang.

Gudang Garam sendiri belum memberikan indikasi adanya perubahan strategi bisnis terkait aset-aset non-tembakau yang mereka miliki.

Pergerakan harga saham dan kinerja keuangan GGRM ke depan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh efisiensi operasional di lini bisnis utama.

Sementara itu, proyek infrastruktur di Kediri akan terus dipantau perkembangannya sebagai bagian dari diversifikasi portofolio perusahaan dalam jangka panjang.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar