Jakarta – Harga emas dunia mencatatkan performa impresif dengan melanjutkan tren penguatan selama empat hari berturut-turut hingga perdagangan Jumat (7/8/2026).
Logam mulia ini berhasil mempertahankan posisinya di level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir.
Kenaikan harga emas dipicu oleh menurunnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini menyusut ke angka 57 persen, turun signifikan dari 65 persen pada pekan sebelumnya.
Perubahan ekspektasi ini membuat investor kembali mengalihkan modal mereka ke aset safe haven untuk menghindari risiko pasar.
Harga emas di pasar spot tercatat menguat 0,4 persen ke posisi US$ 4.261,98 per ons troi.
Sebelumnya, harga sempat menyentuh titik tertinggi sejak 18 Juni 2026.
Kontrak emas berjangka Amerika Serikat juga mengalami tren serupa dengan kenaikan 0,4 persen menjadi US$ 4.232,70 per ons troi.
Lonjakan ini menambah catatan positif setelah pada perdagangan sebelumnya harga emas sempat melonjak lebih dari 4 persen.
Kenaikan tersebut tercatat sebagai penguatan harian paling signifikan yang dialami emas sejak Februari lalu.
“Arah suku bunga The Fed tetap menjadi penentu utama pergerakan harga emas,” sebut pernyataan resmi yang dikutip dari CME FedWatch Tool, Jumat (7/8/2026).
Penurunan prospek suku bunga dinilai sangat menguntungkan bagi emas karena menekan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Namun, pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, non-farm payrolls, yang dijadwalkan meluncur hari ini.
Data tersebut akan menjadi acuan vital bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan.
Apabila data ketenagakerjaan menunjukkan perlambatan ekonomi yang lebih dalam, harga emas berpotensi melanjutkan tren penguatan.
Sebaliknya, data yang menunjukkan sektor tenaga kerja tetap solid bisa memicu aksi ambil untung oleh para investor.
Selain kebijakan moneter, pasar juga memantau ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kekhawatiran terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk sempat memicu volatilitas harga minyak dunia.
Namun, potensi meredanya konflik di Selat Hormuz diyakini mampu menekan inflasi global melalui penurunan harga energi.
Kondisi ekonomi makro yang lebih stabil ini secara tidak langsung memberikan ruang bagi bank sentral untuk bersikap lebih akomodatif.
Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya menunjukkan variasi hasil di pasar global.
Harga perak spot mengalami koreksi sebesar 0,9 persen ke level US$ 61,53 per ons troi.
Di sisi lain, harga platinum terpantau relatif stabil di posisi US$ 1.734,49 per ons troi.
Adapun komoditas paladium berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 1,2 persen menjadi US$ 1.380,33 per ons troi.




















