Jakarta – Pasar kripto sepanjang Juli 2026 menunjukkan sinyal pemulihan moderat setelah sempat mengalami tekanan jual yang cukup dalam.
Data mencatat Bitcoin, sebagai aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar, berhasil membukukan kenaikan kinerja antara 6% hingga 7% selama bulan tersebut.
Namun, laju penguatan Bitcoin ini justru terlihat kalah agresif jika dibandingkan dengan pergerakan sejumlah aset kripto alternatif atau altcoin.
Token Decimal (DEL), misalnya, mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 72.410% hingga menyentuh level harga US$ 0,7017 sepanjang Juli 2026.
Deretan altcoin lain yang turut mencatat kenaikan signifikan meliputi AKEDO (AKE) sebesar 1.476% dan Talus (TALUS) sebesar 210,65%.
Selain itu, Unibase (UB) naik 79,87%, Bitway (BTW) menguat 53,74%, dan Joseon Mun (JSM) tumbuh 50,13%.
Kenaikan juga dialami oleh DigiByte (DGB) sebesar 48,11%, AntFun (ANTFUN) 30,69%, serta UnifAI Network (UAI) sebesar 20,53%.
Financial Expert Ajaib, Panji Yudha, menilai bahwa tren kenaikan selama Juli lebih tepat dikategorikan sebagai fase pemulihan atau rebound.
Ia mencatat adanya aliran dana masuk atau net inflow pada ETF Spot Bitcoin di Amerika Serikat sebesar US$ 172,43 juta.
Angka tersebut menjadi indikator kembalinya kepercayaan investor institusi setelah periode outflow mencapai US$ 6,94 miliar dalam dua bulan sebelumnya.
Presiden Direktur PINTU, Andy Putra, memberikan pandangan serupa terkait dinamika pasar terkini.
Ia menegaskan bahwa kenaikan kapitalisasi pasar selama Juli belum menjadi bukti konkret dimulainya tren bullish baru.
Menurutnya, pasar saat ini masih berada dalam fase konsolidasi, yakni periode stabil setelah koreksi harga besar sejak Oktober 2025.
“Saat ini pergerakan pasar lebih mencerminkan fase konsolidasi, yakni periode ketika harga bergerak relatif stabil setelah koreksi sebelum menentukan arah berikutnya,” ujar Andy dikutip dari Kontan, Kamis (6/8/2026).
Memasuki Agustus 2026, para pelaku pasar diminta untuk lebih waspada terhadap potensi volatilitas.
Panji mengingatkan bahwa secara historis, Agustus merupakan salah satu bulan dengan kinerja terlemah bagi Bitcoin.
Data CoinGlass dalam 13 tahun terakhir menunjukkan Bitcoin mengalami penurunan selama Agustus dalam 10 kesempatan, dengan median return negatif 3,12%.
Selain faktor musiman, perhatian investor kini tertuju pada simposium Jackson Hole yang berpotensi memengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Terkait lonjakan harga pada token berkapitalisasi kecil, Andy menjelaskan bahwa fenomena tersebut belum mengonfirmasi terjadinya altcoin season.
Ia menegaskan bahwa altcoin season baru bisa dikonfirmasi jika dominasi Bitcoin terus menurun secara konsisten.
Panji menambahkan bahwa lonjakan token seperti DEL kurang representatif karena likuiditasnya yang terbatas dan statusnya yang belum legal di Indonesia.
“Investor sebaiknya lebih mencermati aset kripto yang memiliki fundamental kuat, likuiditas memadai, serta didukung pertumbuhan pendapatan protokol dan aktivitas pengguna yang dapat diverifikasi,” tegas Panji.
Para ahli menyarankan investor untuk tetap selektif dan menghindari spekulasi berlebihan pada aset dengan fundamental yang tidak jelas.
Diversifikasi ke sektor Real World Assets (RWA) menjadi salah satu opsi yang direkomendasikan untuk mengoptimalkan portofolio di tengah ketidakpastian pasar.
“Aset dengan fundamental yang kuat, revenue stream yang jelas, serta telah terdaftar secara resmi memiliki peluang lebih baik untuk mempertahankan tren kenaikan dibandingkan token yang hanya didorong euforia jangka pendek,” pungkas Panji.





















