Jakarta – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) telah merealisasikan program pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai mencapai Rp 285,05 miliar hingga pertengahan tahun 2026.
Langkah korporasi ini mencakup akuisisi sebanyak 168.766.700 lembar saham perseroan.
Direktur UNVR, Neeraj Lal, mengonfirmasi bahwa seluruh aset tersebut kini diklasifikasikan sebagai saham tresuri atau treasury stock.
“Jumlah dana yang telah digunakan ialah Rp 285,05 miliar atau akumulasi jumlah saham yang dibeli mencapai 168.766.700 lembar saham,” ujar Neeraj dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/7/2026).
Realisasi tersebut baru mencakup sekitar 14,25% dari total plafon anggaran buyback yang disiapkan perusahaan sebesar Rp 2 triliun.
Artinya, masih terdapat sisa dana lebih dari Rp 1,7 triliun yang belum terserap untuk aksi korporasi ini.
Meskipun perusahaan telah menyerap ratusan miliar rupiah, pergerakan harga saham UNVR di pasar modal masih menunjukkan tren stagnasi.
Pada penutupan perdagangan Kamis (16/7/2026), saham emiten barang konsumsi ini hanya menguat tipis 0,90% atau 15 poin ke level Rp 1.685 per lembar.
Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan (year to date), harga saham UNVR justru masih tertekan dalam dengan penurunan mencapai 35,69% atau merosot 935 poin.
Data historis menunjukkan rata-rata harga buyback yang dilakukan perseroan berada di level Rp 1.689,02 per saham.
Angka tersebut hampir setara dengan harga pasar saat ini, yang mengindikasikan bahwa aksi buyback belum mampu menjadi katalis pendorong bagi kenaikan harga saham secara signifikan.
Manajemen menegaskan bahwa dana yang digunakan untuk pembelian kembali saham sepenuhnya berasal dari kas internal perusahaan.
Perseroan memastikan bahwa aksi ini tidak akan mengganggu stabilitas operasional maupun kondisi keuangan perusahaan di masa depan.
Pihak manajemen menambahkan bahwa level likuiditas dan arus kas perusahaan saat ini masih berada dalam posisi yang cukup kuat.
Program buyback ini direncanakan berlangsung secara bertahap menggunakan dana internal tanpa melibatkan pinjaman eksternal.
Secara teknis, harga tertinggi yang pernah dibayarkan perseroan selama periode buyback tercatat sebesar Rp 1.703 per saham.
Sebaliknya, harga terendah pembelian kembali saham terjadi di angka Rp 1.665 per lembar.
Di sisi lain, investor di pasar modal saat ini masih menanti katalis positif yang lebih kuat untuk mengembalikan daya tarik saham UNVR.
Status sebagai saham blue chip dengan rekam jejak pembagian dividen yang rutin tampaknya belum cukup untuk menahan tren pelemahan harga.
Para pelaku pasar kini menyoroti bahwa aksi buyback sering kali dipandang sebagai sinyal optimisme internal terhadap valuasi perusahaan.
Namun, realitas pasar menunjukkan bahwa investor membutuhkan dorongan fundamental yang lebih konkret agar kembali melirik saham tersebut.
Hingga saat ini, kinerja harga saham UNVR masih menjadi tantangan di tengah persaingan ketat sektor barang konsumsi nasional.



















