Pantau – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin ditutup melemah 22,97 poin atau 0,32 persen ke level 7.106,52. Padahal, sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat bertahan di zona hijau sebelum berbalik turun menjelang penutupan.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan, IHSG awalnya bergerak positif setelah tekanan jual pada akhir pekan lalu. “Setelah mengalami tekanan jual pada akhir pekan lalu, IHSG sempat bergerak di teritori positif hampir di sepanjang perdagangan, namun kemudian IHSG melemah menjelang penutupan,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga turun 0,32 persen ke posisi 686,74 di tengah tekanan di sejumlah sektor.
Dari dalam negeri, pasar juga mencermati rencana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mempertimbangkan pemberian insentif bagi pasar modal untuk mendongkrak kinerja bursa. Insentif itu berpotensi berbentuk pengurangan pajak, jika program otoritas bursa dinilai menunjukkan hasil positif.
Langkah tersebut sejalan dengan dorongan Otoritas Jasa Keuangan agar pemerintah menghadirkan stimulus fiskal bagi pasar. Di sisi lain, data investasi asing langsung di luar sektor keuangan dan migas tercatat tumbuh 8,5 persen secara tahunan menjadi Rp250 triliun pada kuartal I 2026.
Kenaikan itu melanjutkan tren positif setelah pada kuartal IV 2025 tumbuh 4,3 persen. Arus investasi terbesar berasal dari sektor industri logam dasar dengan nilai mencapai 3,7 miliar dolar AS.
Dari pasar regional, mayoritas bursa saham Asia ditutup menguat meski pelaku pasar masih memantau belum adanya perundingan Amerika Serikat dan Iran serta tingginya harga minyak dunia. Ketidakpastian juga dipengaruhi dinamika geopolitik global, termasuk laporan bahwa Iran menawarkan proposal baru kepada Amerika Serikat terkait pembukaan Selat Hormuz dan penundaan pembahasan program nuklir.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei 225 dan Kospi bahkan ditutup di rekor tertinggi. Sementara itu, laba industri China pada Maret 2026 tercatat naik 15,5 persen secara tahunan.
Pelaku pasar juga menunggu hasil pertemuan Bank of Japan pada 28 April 2026. Bank sentral Jepang diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 0,75 persen.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sektor energi menjadi penekan terbesar dengan penurunan 1,21 persen. Di sisi saham, penguatan terbesar dibukukan JAWA, ESIP, IFSH, BOBA, dan SMMT.
Adapun saham yang mencatat pelemahan terdalam ialah HOPE, BABY, KDTN, BRNA, dan ENRG.
Total nilai transaksi saham pada perdagangan hari itu mencapai Rp16,57 triliun dengan volume 33,17 miliar lembar saham dan frekuensi 2,20 juta kali transaksi. Sebanyak 408 saham menguat, 264 saham melemah, dan 147 saham bergerak stagnan.
























