Industri Manufaktur Indonesia Pertahankan Tren Ekspansi Kuartal Kedua 2026

Sektor manufaktur Indonesia diprediksi tumbuh lebih cepat kuartal III 2026 dengan indeks PMI 52,32, didorong peningkatan produksi, pesanan, dan persediaan, terutama di industri mesin dan makanan-minuman.

Ikhwan Setiawan

bi-catat-kinerja-manufaktur-ri-masih-ekspansi-pada-kuartal-ii-2026
BI Catat Kinerja Manufaktur RI Masih Ekspansi pada Kuartal II 2026

Jakarta – Sektor manufaktur Indonesia diprediksi bakal melaju lebih kencang pada kuartal III 2026 dengan proyeksi indeks mencapai 52,32.

Optimisme ini muncul setelah Bank Indonesia mencatat kinerja industri pengolahan nasional tetap berada di zona ekspansi sepanjang kuartal II 2026.

Data Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) menunjukkan angka 51,43 pada periode tersebut.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa stabilitas ini didorong oleh peningkatan volume produksi, persediaan barang jadi, serta total pesanan.

“Dengan demikian, kinerja lapangan usaha industri pengolahan pada triwulan II 2026 tetap terjaga dan berada pada fase ekspansi,” ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Jumat (17/7).

Secara sektoral, industri mesin dan perlengkapan menjadi motor penggerak utama yang mencatatkan kinerja tertinggi.

Selain itu, sektor makanan dan minuman, logam dasar, serta barang galian bukan logam turut memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan industri.

Bank sentral memperkirakan tren penguatan ini akan berlanjut pada tiga bulan ke depan.

BI memproyeksikan mayoritas subsektor industri, termasuk pengolahan tembakau dan alat angkutan, akan terus berada di zona ekspansi.

Sebagai informasi, PMI-BI merupakan indikator krusial yang digunakan otoritas moneter untuk memantau kesehatan sektor manufaktur nasional.

Dalam standar indeks ini, angka di atas 50 menandakan aktivitas industri sedang dalam fase ekspansi, sementara di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Rekomendasi