Jakarta – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap portofolio bisnisnya melalui divestasi seluruh kepemilikan saham di PT Vaksindo Satwa Nusantara.
Langkah strategis ini mencakup pelepasan 31.000 saham atau 100 persen modal ditempatkan dan disetor pada Vaksindo yang dimiliki oleh JPFA dan PT Ciomas Adisatwa.
Total nilai transaksi divestasi tersebut mencapai Rp 1,807 triliun.
Perjanjian Jual Beli Saham (PJBS) terkait aksi korporasi ini telah resmi ditandatangani pada 29 September 2026.
Pembeli dalam transaksi ini adalah Japfa Pte. Ltd. dan Bionovus Pte. Ltd., yang merupakan entitas di bawah naungan Grup Japfa.
Selain pengalihan saham, transaksi ini juga mencakup pengalihan hak atas merek dagang Vaksindo, Vaksimune, dan Vitakur kepada Bionovus.
Japfa Pte. Ltd. saat ini berstatus sebagai pengendali utama JPFA dengan porsi kepemilikan sebesar 56,34 persen.
Sementara itu, Bionovus merupakan pihak terafiliasi karena seluruh sahamnya dikuasai oleh Japfa Pte. Ltd.
Penentuan nilai transaksi sebesar Rp 1,807 triliun merujuk pada penilaian independen yang dilakukan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) RSR per 30 Juni 2026.
Penilaian tersebut menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF-FCFF) dan metode Guideline Publicly Traded Company (GPTC).
Sekretaris Perusahaan Japfa, Maya Pradjono, menyatakan bahwa divestasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi alokasi modal perusahaan.
“Salah satu pertimbangan utama divestasi adalah membuat alokasi modal perusahaan menjadi lebih efisien,” ungkap Maya dikutip dari keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Kamis (1/10/2026).
Dengan melepas Vaksindo, JPFA tidak perlu lagi mengalokasikan komitmen modal untuk mendukung ekspansi bisnis anak usaha tersebut.
Strategi ini dianggap krusial mengingat Vaksindo berencana melakukan ekspansi kapasitas besar-besaran ke luar Indonesia.
Manajemen JPFA menilai rencana ekspansi tersebut memiliki risiko lebih tinggi dan periode pengembalian modal yang lebih lama dibandingkan bisnis di pasar domestik.
Meski terjadi pengalihan kepemilikan, hubungan komersial antara JPFA dan Vaksindo dipastikan tetap berjalan.
Pasokan bahan baku peternakan dari Vaksindo akan terus berlanjut dengan syarat dan ketentuan yang secara substansial sama dengan kondisi saat ini.
Pemilihan pihak terafiliasi sebagai pembeli dianggap sebagai langkah mitigasi risiko untuk menjaga rantai pasok.
Selain itu, transaksi internal grup ini dipilih karena menawarkan kecepatan eksekusi tanpa memerlukan proses lelang yang panjang.
Divestasi ini juga berfungsi melindungi informasi sensitif terkait operasional kesehatan hewan yang berkaitan erat dengan bisnis inti JPFA.
Namun, konsekuensi dari aksi ini adalah JPFA tidak lagi mengonsolidasikan pendapatan, laba, maupun aset Vaksindo beserta anak usahanya di India dan Vietnam ke dalam laporan keuangan.
Perseroan juga melepaskan potensi pertumbuhan bisnis dan sinergi dari unit kesehatan hewan tersebut di masa depan.
Hingga penutupan perdagangan bursa terakhir, saham JPFA tercatat mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 1,46 persen ke level Rp 2.030 per lembar saham.






















