Investasi Asing di Pindar Lokal Melonjak Meski Industri Hadapi Kredit

Kholida Rahman

Investasi Asing di Pindar Lokal Melonjak Meski Industri Hadapi Kredit

Jakarta – Industri layanan pinjaman daring (pindar) di Indonesia mencatatkan lonjakan investasi asing yang signifikan sepanjang semester pertama tahun 2026.

Data terbaru menunjukkan aliran dana dari pemberi pinjaman atau lender luar negeri menembus angka Rp17,28 triliun pada Juni 2026.

Capaian tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 34,18% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agusman, menyatakan bahwa tren ini menegaskan tingginya minat investor global terhadap sektor finansial digital tanah air.

“Daya tarik tersebut antara lain didukung oleh potensi imbal hasil yang relatif kompetitif,” ujar Agusman dalam dokumen jawaban tertulis RDKB OJK Juli 2026, Senin (10/8).

Meskipun arus modal masuk mengalami peningkatan pesat, sektor ini masih menghadapi tantangan serius terkait kualitas kredit.

OJK mencatat per Juni 2026 masih terdapat 16 penyelenggara pindar yang memiliki tingkat wanprestasi atau TWP90 di atas 5%.

Angka tersebut memang menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan Mei 2026 yang mencapai 18 penyelenggara.

Mayoritas dari perusahaan dengan rasio kredit macet tinggi tersebut bergerak pada segmen pendanaan produktif.

Sebagai respons, regulator telah mengambil langkah tegas dengan menempatkan sebagian penyelenggara dalam status pengawasan intensif atau khusus.

“Ini termasuk menetapkan sebagian penyelenggara dalam status pengawasan intensif atau khusus sesuai ketentuan,” kata Agusman.

Di tengah bayang-bayang risiko kredit, industri ini terbukti tetap mampu mencetak profitabilitas yang solid.

Laba industri pindar pada Juni 2026 tercatat mencapai Rp1,15 triliun, atau tumbuh 10,14% secara tahunan (year-on-year).

Agusman meyakini bahwa peluang untuk melampaui target laba tahun 2025 tetap terbuka lebar bagi para pelaku industri.

Optimisme ini didorong oleh pertumbuhan penyaluran pendanaan yang dibarengi dengan penguatan manajemen risiko serta peningkatan kualitas credit scoring.

“Peluang industri pindar untuk melampaui capaian laba tahun 2025 masih terbuka, didukung antara lain oleh pertumbuhan penyaluran pendanaan, penguatan manajemen risiko, dan peningkatan kualitas credit scoring,” ungkap Agusman.

Fokus pendanaan saat ini memang semakin diarahkan pada sektor produktif dan UMKM.

Hingga Juni 2026, outstanding pendanaan ke sektor UMKM telah mencapai Rp35,12 triliun atau sekitar 33,41% dari total outstanding industri.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Entjik S. Djafar, menilai bahwa peran pindar sangat krusial dalam menjembatani kesenjangan akses modal.

“Pindar hari ini berfungsi sebagai jembatan pembiayaan produktif bagi UMKM yang belum sepenuhnya terlayani perbankan,” ujar Entjik.

Menurutnya, penggunaan teknologi memungkinkan jangkauan yang lebih luas bagi pelaku usaha yang selama ini memiliki hambatan struktural di sektor perbankan konvensional.

Data riset menunjukkan bahwa dana pinjaman mayoritas digunakan oleh pelaku usaha untuk kebutuhan ekspansi, pembelian bahan baku, hingga pengadaan alat produksi.

“Pola ini menunjukkan bahwa pendanaan pindar tidak hanya dipakai untuk menutup kebutuhan likuiditas jangka pendek, tetapi juga mendukung investasi kapasitas usaha,” kata Entjik.

Dengan demikian, aliran dana asing ke industri pindar Indonesia saat ini dipandang sebagai bentuk kepercayaan investor terhadap potensi produktif usaha kecil di tanah air, sembari terus menuntut perbaikan manajemen risiko kredit dari setiap penyelenggara.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar