Bursa Asia Melemah, Harga Minyak Brent Tembus US$ 101,65 per Barel

Kholida Rahman

Bursa Asia Melemah, Harga Minyak Brent Tembus US$ 101,65 per Barel

Jakarta – Pasar saham di kawasan Asia mencatatkan pelemahan pada perdagangan Rabu (7/10/2026), meskipun bursa Amerika Serikat (Wall Street) baru saja membukukan rekor tertinggi baru.

Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang dilaporkan mengalami penurunan sebesar 0,3% pada sesi perdagangan hari ini.

Kendati demikian, indeks tersebut secara akumulatif masih mencatatkan penguatan sekitar 1,5% sepanjang bulan Oktober 2026.

Tekanan di pasar Asia dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap volatilitas harga komoditas energi global.

Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan tren kenaikan akibat ancaman badai di wilayah produksi minyak Amerika Utara.

Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran turut memicu ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah.

Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 1,05% menjadi US$90,38 per barel.

Sementara itu, harga minyak Brent meningkat 1,06% ke level US$101,65 per barel.

Situasi pasokan global saat ini berada dalam fase transisi yang krusial.

“Pasar masih menimbang potensi gangguan pasokan dengan meningkatnya pasokan minyak mentah dari Timur Tengah,” demikian laporan Reuters.

CEO Vitol, Russell Hardy, mengungkapkan bahwa sekitar 12 juta barel minyak mentah per hari dan 2 juta barel produk olahan telah dikirim melalui kapal tanker dari Timur Tengah dalam periode tujuh hingga 10 hari terakhir.

Di pasar obligasi Eropa, sentimen investor mulai membaik seiring dengan stabilnya imbal hasil surat utang pemerintah.

Obligasi Prancis menunjukkan kinerja positif setelah kandidat presiden dari kelompok sayap kanan, Marine Le Pen, menjanjikan kebijakan fiskal yang lebih ketat melalui pemangkasan belanja dan pengurangan defisit.

Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun turun lebih dari 11 basis poin.

“Besarnya pergerakan ini cukup mencolok mengingat pemilu 2027 masih beberapa bulan lagi dan memburuknya dinamika fiskal Prancis bukanlah hal baru,” ujar Laura Cooper, Head of Macro Credit and Global Investment Strategist Nuveen, dikutip dari Reuters.

Cooper menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil sebelumnya yang cukup tajam memaksa investor untuk lebih memperhatikan kerentanan fiskal Prancis.

Di sisi lain, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kembali menguat ke kisaran 5,3%.

Kenaikan ini terjadi menjelang lelang surat utang tenor 10 tahun pada Rabu dan tenor 30 tahun pada Kamis.

Lelang tersebut diprediksi akan menjadi barometer utama untuk mengukur minat investor terhadap aset pemerintah AS.

Sementara itu, bursa saham di Asia menunjukkan kinerja yang beragam.

Indeks Nikkei Jepang terkoreksi 0,86%, sementara Hang Seng Hong Kong turun 0,63%.

Pasar keuangan China daratan terpantau masih tidak beroperasi karena sedang dalam periode libur.

Investor kini mengalihkan fokus pada rilis risalah rapat kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan keluar pada Rabu waktu setempat.

Dokumen tersebut akan menjadi acuan penting untuk memproyeksikan arah kebijakan suku bunga The Fed di masa depan.

Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed bulan ini dilaporkan menurun ke angka 19%, dari sebelumnya sempat menyentuh 50% pada pekan lalu.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar