Jakarta – Pemerintah Indonesia menargetkan swasembada susu nasional dengan mematok target populasi sapi perah mencapai 2 juta ekor.
Langkah ini diambil untuk menekan ketergantungan impor yang saat ini masih mendominasi hingga 75 persen kebutuhan susu dalam negeri.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian (Kementan), Makmun, menyatakan bahwa produksi susu lokal baru mampu memenuhi 25 persen dari total kebutuhan nasional.
Menurutnya, kesenjangan antara permintaan dan produksi domestik menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi.
“Sebagaimana kita ketahui produksi kita itu lebih kurang sekitar 25 persen susu dalam negeri, sisanya artinya 75 persen masih impor,” ujar Makmun dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/6).
Untuk mengejar target tersebut, pemerintah kini fokus pada penambahan populasi sapi perah.
Sepanjang tahun lalu, Kementan mencatat rekor impor sapi bunting sebanyak hampir 15 ribu ekor. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat regenerasi indukan sapi perah di Indonesia.
Makmun optimistis, jika separuh dari anak sapi yang lahir berjenis kelamin betina, maka akan tersedia lebih dari 7.000 calon indukan baru.
Saat ini, populasi sapi perah nasional tercatat baru mencapai 540.657 ekor, sehingga masih dibutuhkan tambahan sekitar 1,5 juta ekor lagi untuk mencapai swasembada.
Selain kuantitas, pemerintah juga menyoroti pentingnya produktivitas per ekor sapi.
Saat ini, rata-rata produksi susu sapi di Indonesia masih berada di angka 12,5 liter per hari, jauh tertinggal dibandingkan negara produsen susu dunia yang mampu mencapai di atas 30 liter per hari.
“Kita ingin produktivitas peternak kita yang saat ini masih di bawah 20 liter per hari per ekor itu meningkat menjadi di atas 20 liter, mudah-mudahan bisa 25 liter per hari per ekor,” jelasnya.
Guna mencapai target produktivitas tersebut, pemerintah tengah menggenjot program perbaikan kualitas pakan serta kesehatan ternak.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pemberian vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) secara menyeluruh bagi sapi perah.
“Kemudian perbaikan dari sisi kesehatan hewannya, sehingga betul-betul hewan kita terjaga sehat. Sekarang kami juga menyediakan vaksin khususnya untuk sapi perah secara 100 persen, sehingga tidak ada lagi yang terdampak dengan PMK,” pungkas Makmun.






















