Jakarta – Tren kenaikan harga komoditas global menjadi katalis utama bagi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dalam memperkuat kinerja fundamentalnya sepanjang tahun 2026.
Emiten produsen tembaga dan emas ini mencatatkan performa yang kian solid seiring dengan meningkatnya kebutuhan industri kendaraan listrik dan data center di pasar dunia.
Pergerakan saham AMMN menunjukkan pemulihan signifikan dalam satu bulan terakhir dengan kenaikan sebesar 30 persen.
Meskipun secara tahun berjalan (year to date) harga saham perusahaan sempat terkoreksi 41,32 persen ke level Rp 3.770 per saham pada Selasa (23/6/2026), optimisme pasar terhadap emiten ini kembali menguat.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa sensitivitas AMMN terhadap harga komoditas sangat tinggi karena spesialisasi perusahaan pada bijih dengan kadar tinggi.
Data Trading Economics mencatat harga tembaga tumbuh 25,91 persen secara tahunan (yoy) ke level US$ 6,15 per pound, sementara harga emas dunia naik 24,03 persen menjadi US$ 4.123 per ons troi.
Kenaikan harga pasar tersebut terefleksi langsung dalam laporan keuangan perusahaan.
Pada kuartal I-2026, AMMN berhasil mencatatkan penjualan bersih sebesar US$ 808 juta, melonjak drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai US$ 2 juta.
Perusahaan juga sukses membalikkan posisi rugi bersih US$ 138 juta pada kuartal I-2025 menjadi laba bersih US$ 163 juta pada kuartal I-2026, mencerminkan margin laba bersih sebesar 20 persen.
Manajemen AMMN menargetkan total produksi sebanyak 900.000 metrik ton konsentrat pada 2026, yang mengandung 485 juta pon tembaga dan 579.000 ons troi emas.
Target ini didukung oleh operasional pabrik konsentrator eksisting dan pabrik baru yang diharapkan rampung proses komisioningnya pada Juli 2026.
Selain itu, fase akhir pengujian jaminan kinerja untuk smelter tembaga dan fasilitas pemurnian logam mulia (Precious Metal Refinery) juga ditargetkan selesai dalam periode yang sama.
Nafan menambahkan bahwa beroperasinya smelter secara penuh akan mentransformasi AMMN menjadi perusahaan tambang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Dengan demikian, perusahaan dapat menjual katoda tembaga dan emas murni dengan margin lebih tinggi.
Namun, ia mengingatkan agar perusahaan tetap memperketat efisiensi operasional melalui otomatisasi dan strategi lindung nilai (hedging) finansial guna memitigasi volatilitas pasar.
Proyeksi optimis juga datang dari Investment Analyst Stockbit Sekuritas yang memperkirakan laba bersih AMMN akan menyentuh US$ 1 miliar pada 2026 dan naik menjadi US$ 1,6 miliar pada 2027. Estimasi tersebut didorong oleh kenaikan kadar emas pada Fase 8, optimalisasi smelter, serta keuntungan dari asam sulfat.
Secara teknikal, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengamati bahwa pergerakan saham AMMN dalam jangka pendek berada dalam fase tren naik (uptrend).
Ia merekomendasikan strategi trading buy dengan level support di Rp 3.540 dan resistance di Rp 4.000, serta target harga di kisaran Rp 4.100 hingga Rp 4.230 per saham.
Meski indikator MACD menunjukkan potensi penguatan, investor tetap disarankan untuk mewaspadai koreksi teknikal pada indikator Stochastic.





















